Ramadhan-ku, Ramadhan-mu, Ramadhan kita…

Key Word : Doa, Magfirah, Ramadhan

Lewat sudah hari ini panas puasa

Alun Adzan tanda buka, basahi jiwa

Kusirami, kering sepi diujung hari

Lambat menanti, tak trasa lagi

Ampunilah hamba, belum bisa puasa makna

Rasa praduga, kata dan mata yang tak terjaga

Terimalah ya Robbi walau cuma lapar dahaga

Bimbinglah kami, bersihkan hati, mencari diri


Sebuah kata yang indah, seikhlas kita menerima ramadhan, akankah tanpa perubahan dari tahun menuju tahun. Bukan pula katogori angan yang muluk jika ingin membaiki diri. Ya Allah aku ingin berubah …


Puasa bukan hanya mencari ”definisi opersional”, selayaknya kita mahasiswa dahulu, apa itu arti puasa, tetapi lebih aplikasi kita dalam realitas hidup, aplikasi dari kesabaran, menerima, mensyukuri dari berbagai virus kerakusan, merasa benar sediri, merasa berpengalaman, merasa hebat, dan merasa-merasa yang lain. Menjaga kebiasaan-kebiasaan dalam ramadhan dan Idul Fitri. Mendekati hari terakhir ramadhan, ya Allah bersyukur masih adanya disekeliling kami “aroma” ramadhan itu, tak sukar kami mencari masjid, melihat sekumpulan orang-orang yang belajar ilmuMu, bersyukur pula karena dapat menikmati bersama keluarga, selalu ada sesuatu yang “berbeda” dalam hari-hari ramadhan


Allah : nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga

Allah : milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan dan hikmah

Allah : dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan

Allah : pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan jiwa, jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan. Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal.

Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong …

(’Aidh al-Qarni, 2005:2-3)

 

Hadits dari Tarmidzi, ada tiga golongan yang doanya tiada tertolak, salah satunya adalah adalah doa orang berpuasa sehingga ia berbuka. Sa’id Hawwa (2006:72) dalam kitab tazkiyatun nafs : penyucian jiwa, ada tiga tingkatan dalam berpuasa :

1. Puasa orang awam, menahan perut dan kemalukan dari memperturutkan syahwatnya

2. Puasa orang khusus, adalah menahan pandangan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari berbagai dosa

3. Puasa orang yang paling khusus, adalah puasa hati dari berbagai ambisi yang hina dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala sesuatau selain Allah secara total

 

Great Sale : Lailatul Qadhar

Yukk …. Ber-muhasabah dengan-Nya

Dimalam yang sunyi, seolah ”hiduplah” sediri, saat itulah rasakan kedekatan diri pada Allah, sang maha Agung. Heningkan dari segala ambisi, keinginan, angan-angan yang belum tercapai. Rendahkan ucapan seolah berbisik, lunakkan hati, uraikan dengan lemah lembut segala apa yang kita rasakan, penat, lemah dan tersakitinya hati, lelahnya di tubuh ini, keinginan yang belum tersampaikan, realitas yang kontra. Tata kembali niat, tujuan apa yang akan dicapai, renungkan semuanya …

Karenanya, Allah menganugrahkan suatu wasilah (sarana) kepada manusia untuk mengatasi dan keluar dari keruwetan dan kesulitan hidup plus sebagai media guna mendatangkan maslahah (kebaikan) bagi dirinya, itulah DOA

Berfikirlah kembali, kalaupun tidak karena kasih sayang Allah, tentulah semua aib, keburukan kita terungkap. Kesalahan, dosa yang dilakukan baik disegaja atau-pun tidak. Tentulah tiada penghormatan bagi kita, kalau Allah tidak menutup aib itu. Muhasabah dalam kehidupan berarti meninjau kembali, apakah kita menuju arah yang lebih baik tahun ini dari pada tahun yang lalu. Apakah kita beruntung atau merugi. Beruntung yang berarti berbagai amalan sunnah dan ibadah tambahan, sementara kerugiannya ialah berbagai kemaksiatan.

Sa’id Al Hawwa (2006:155), mengkiaskan arti muhasabah terhadap mitra usaha adalah meninjau modal keuntungan dan kerugian untuk mencari kejelasan bertambah atau berkurang. Apabila tercapai keuntungan, maka ia memberikan upah dan berterima kasih kepada mitranya itu, tetapi apabila terjadi banyak kerugian, maka ia menuntutnya agar menanggung kerugian itu dan agar menutupinya di masa mendatang. Maka begitu pula modal seorang hamba dalam agamanya adalah berbagai kewajiban

Memang banyak di kehidupan kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, seolah saat kita untuk menghadapinya terasa sesak untuk bernafas. Dekatkan diri kita pada Allah, Allah melihat kita bersimpuh. Menangislah … jangan ragu, curahkan segala kepenatan yang mengganjal didalam lubuk hati. Hingga terasa lelah pundak dan mata ini lelah menopang dengan air mata. Mintalah yang terbaik pada Allah, bersyukur dengan segala karuniaNya, melindungi hidup kita dan seluruh keluarga. Sebagai hamba yang dhaif (lemah), manusia sangat berhajat akan sebuah sandaran, tempat mengadukan nasib dan menunjukkan pinta, membutuhkan pijakan, sebagai tempat mencurahkan keluh dan kesahnya.

Meski rapuh dalam langkah tak sempurna, mencitai-Mu, tetapi sungguh dalam hati selayaknya hanya Allah tempat bermuara segalanya, sebuah nama yang indah, semoga akan selalu terucap disetiap lisan hingga pada anak cucu kelak …

Kepasrahan yang menyejukkan, lezatnya dan nikmatnya iman, manfaatkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan … Seperti untaian doa yang selalu terucap disaat sholat, merupakan manifestasi perjanjian kita :

”Inni wajjahtu wajhiya lil-ladzii fatharas-samaawaati wal-ardha

haniifam muslimaw wa maa ana minal-musyrikin.

Inna shalaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-’aalamiin”

”Allah Maha Besar lagi Sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka dan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri

dan aku bukanlah golongan kaum yang musyrikin.

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata hanya untuk Allah, …”

Setelah kita serahkan semua pada Allah, akan terasa ringan kaki melangkah, berkurang pula-lah beban dalam hati. Utarakan semua dan berdoa untuk diri sendiri, memohon yang terbaik dari segala apa yang telah kita raih, rezki yang halal agar halal pula saat kita berikan pada keluarga. Doakan segala apa yang ada di sekitar kita, keluarga, sahabat, pekerjaan, usaha perniagaan, masa depan kita, atau bahkan orang lain sekali-pun.

Saat termangu dalam i’tikaf, dari berbagai untaian doa yang kita panjatkan, refresh kembali rasa sayang kita pada keluarga, ayah ibu, suami/istri (apabila telah ada), anak, kakak, adik. Kita coba hadirkan mereka, berdoa untuk mereka, terlebih lagi apabila ada dalam anggota keluarga yang telah meninggal. Sungguh sayang kepada mereka, hingga tanpa sadar berucap … Ya Allah pertemukanlah kami semua di kehidupan yang kedua kelak, di syurgamu, amiin.

Salah satu doa yang mustajab adalah doa kita kepada orang lain, sedangkan orang yang kita doakan tidak mengetahuinya. Ingat disepuluh hari terakhir Ramadhan ada malam dimuliakan dari sepanjang masa, dimana semua mahluk dialam semesta ini bertasbih, malam lailatul qadar. Tepat pada saat itu turun-lah semua malaikat. Perbaiki tingkatkan ibadah kita meskipun seperti energi menipis pada titik akhir ramadhan, sehingga Allah memberikan rewad lailatul qadar agar lebih semangat. Kalau kita memiliki kesempatan untuk beri’tikaf, maka usahakanlah i’tikaf di masjid dengan ikhlas. Karena dengan beri’tikaf di masjid sangat berpeluang besar mendapatkan lailatul qadar.

Namun, kalau tidak memungkinkan, kita bisa semakin meningkatkan amal saleh dimanapun kita berada, karena lailatul qadar tidak turun hanya kepada orang-orang yang sedang i’tikaf, tapi pada siapapun yang sedang beribadah kepada Allah dengan ikhlas, baik di rumah, pasar, sekolah, pabrik, atau dimana saja. Pokoknya, bisa saja mendapatkan lailatul qadar, asalkan saat terjadinya kita sedang dalam keadaan dekat dengan Allah.

 

Ya Allah aku ingin itu, kok dapat ini ?

Seiring dalam kehidupan tak sesuai dengan yang kita harapkan. Bim sala bim … mudah semuanya menurut keinginan kita. Semua serba siip, dari pendidikan hingga rancangan masa depan mau seperti apa. Ingin semua tercapai, finansial lancar untuk pendidikan, ingin keluarga yang selalu mendukung, ingin segala sesuatu yang sesuai yang sempurna dalam hati, hidup terasa indah jika semua ada. Selesai ini, bergantian ingin yang ini, tiada habisnya.

Hirarki kekebutuhan versi Dauglas Mc Gregor dalam Grant Stewart (1995:12), berbentuk seperti piramida. Tingkatan paling dasar adalah kebutuhan fisiologis lapar, haus, dll. Tingkatan kedua : keamanan, perlindungan, kehangatan. Tingkatan ketiga : diterima oleh kelompok. Tingkatan keempat ekspresi diri dan tingkatan paling puncak yaitu pemenuhan diri. Bila hirarki tersebut dihubungkan dengan teori ”Y” dari Mc Gregor, ”ketika manusia mulai merasa secara materi lebih aman, kebutuhan lebih tinggi untuk ekspresi diri (termasuk dorongan untuk berprestasi) untuk suatu sasaran, untuk pemenuhan diri, menuntut pula untuk dipuaskan”. Wajar bila kita ingin semua itu, hanya saja jangan biarkan semuanya membutakan hati dan pikiran. Wajar bila manusia menginginkan materi, tetapi semoga saja tidak menjadi sasaran yang utama dengan menghalalkan segala cara. Seolah kita sholat, puasa, zakat, tetapi juga melakukan penyimpangan. Itulah split personality (kepribadian yang terpecah)

Esensi hidup bukan hanya itu, hidup bukan hanya untuk saat ini, tetapi berfikir lebih jauh kedepan. Telah lama kita berdoa untuk keinginan itu, seolah lelah pula kita berucap memintanya. Inilah ujian dari Allah, apakah kita ikhlas berdoa dan tetap beratahan melalui sabar dan sholat. Tak lupa pula usaha selalu diupayakan, tetapi masih belum ada juga hasilnya.

“Tidak ada seorang muslim-pun yang berdoa dengan sesuatu doa yang bukan doa menyangkut dosa atau memutuskan silaturahmi. Kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari ketiga kemungkinan : segera dipenuhiNya doa tersebut, atau disimpanNya sebagai simpanan pahala di akhirat, atau dihindarkanNya dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding (HR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan Hakim)”

Allah maha tau, siapa diantara hamba-hambanya yang paling ”butuh”. Memang disuatu titik kita merasakan ketidak adilan menurut sudut pandang pribadi. Tetapi, Allah-lah yang maha adil. Kenapa kita diberikan kesempatan ini, kenapa kita harus bersabar, kenapa kita harus melihat orang lain yang ”hidup dan usaha seadanya” lebih mulus, tidak ada onak dan duri. Semakin kita mengejar ambisi, tetapi kok semakin jauh. Lelah ya Allah dengan segala rutinitas ini, memang sulit untuk ikhlas.

Karena itulah rahasia Allah agar kita semua belajar, berhikmah dari setiap kejadian yang menimpa di kehidupan. Hidup tidak dipandang ”GJ” (Gak Jelas), mau kemana ya?, apa yang saya lakukan?, apakah yang selama ini kita cari juga untuk masa depan?, atau hanya ”kesan” semata, biar terlihat gagah, pintar, eksklusif …

Orang yang mengingkan untuk berhasil harus mau bercapek-capek dan berlelah-lelah dalam berusaha. Dalam bidang apa-pun, apakah dalam belajar maupun berusaha. Termasuk dalam masalah agama maupun dunia. Seorang penuntut ilmu atau pelajar hanya akan mampu meraih kesuksesan, kemapanan dan pengetahuan jika mau belajar dengan keras, mengarahkan segala potensinya untuk belajar. Proses belajar, membaca, menulis, mengulang-ulang hafalan, mencari literatur, adalah sesuatu yang sulit alias tidak mudah. Rela untuk menyedikitkan waktu tidur untuk belajar. Lantas apakah usaha berat dan sulit itu akan sia-sia?. Tentu tidak, hasil yang menyenangkan dan memusakan insyaAllah akan lebih mudah tercapai. Bagaimana kalau berbeda dengan angan-angan kita?, sungguh serasa berat. Tetaplah berfikir positif pada Allah, bahwa Allah tidak akan men-dzolimi umatnya, introspeksi diri. Bisa jadi yang kita inginkan, bukan hal yang baik untuk kita, tetapi Allah memberikan jalan yang lebih indah, semua rahasia Allah …

Allah akan selalu dekat pada hamba-Nya yang berusaha mendekatinya. Bahkan Ia (Allah) lebih dekat dari urat nadi kita. Allah tau apa yang kita lakukan, Allah tau segala harapan dan impian serta cita-cita kita

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah; dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan; dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir; dan aku berlindung pada-Mu dari lingkup hutang dan dominasi manusia. (Doa yang diberikan rasulullah kepada Abu Ummah)

 

Dengan menyebut nama Allah … jalani hidupmu, yakinkan niatmu, jangan pernah ragu …

”Bukanlah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad). Dan Kami-pun telah menurunkan beban darimu, yang memberatkan punggungmu, dan

Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka, sesungguhnya bersama kesulitan

ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan),

tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”

Al Insyirah (1-8)

Kok setiap hari seperti ini, tida perubahan, pekerjaan sama, penghasilan sama, kehidupan juga sama. Miskonsepsi (kesalahan konsep) kita dengan hukum keseimbangan Allah. Selama kita bekerja secara halal, untuk keluarga juga merupakan ibadah. Gaji yang diperoleh secara halal untuk mencukupi kebutuhan primer dan sekunder bagi anak istri, keluarga sangat penting. Produktifitas kita bukan untuk berorientasi pada duniawi, tetapi juga pada Allah (karena kejujuran kita mencari nafkah), produktifitas kita dengan diri sendiri (mengembangkan ilmu yang dimiliki agak lebih bermanfaat) dan produktifitas untuk manusia yang lain (manfaat dari orang lain setelah kita bekerja). Allah akan (selalu) memberikan keberkahan. Berkah yang berarti ”bertambah”. Bertambah usia yang bermanfaat, bertambah rezki yang halal dan berguna, bertambah ilmu yang dimiliki untuk berusaha menjadi bijak, menggunakan hati dan pikiran.

”Terpentok” ikut dengan pusaran, rutinitas yang ada menjadikan acuh-tak acuh pada orang-orang yang kita sayangi. Ditempat lain, tuntutan lain menginginkan anak yang ”cling”, ”pintar”, tetapi tiada usaha. Ibu-ibu berpendidikan S-3, tetapi memberikan pendidikan kepada anaknya dengan kualitas SD. Ilmu yang didapatkan dengan susah payah dari perguruan tinggi tidak digunakan untuk mendidik anaknya. Tetapi memilih untuk menerapkan di luar dengan alasan agar tidak sia-sia. Ya Allah … ampuni kami, itulah bentuk teka teki yang harus kita belajar dari-Nya. Berusaha apa yang dapat kita usahakan. Bukan hanya sekedar keinginan, tetapi perlu ikhtiar. Memang terasa sakit saat kita memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Mengambil istilah dari ’Aa Gym, mana yang dipilih : terlihat lebih indah difoto dari pada kenyataan?, atau terlihat indah kenyataan adari pada difoto?. Tentukan arah hidup, benar-benar untuk masa depan dan ”kehidupan yang kedua” (kematian). Saat kita meminta pentunjuk, tentulah ada banyak cita-cita dan angan-angan yang kita harapkan. Tetaplah bersemangat menggapainya, dimanapun berada. Selama lagit masih dijunjung, bumi masih dipijak, cahaya matahari masih terbit di arah Timur, keberkahan Allah akan selalu ada, jangan ragu. Kejarlah … matematika Allah lebih canggih dari pada matematika manusia, rasio Allah lebih tepat dari pada rasio manusia, bahasa Allah lebih bernilai dari pada bahasa manusia. Allah sesuai dengan prasangka hambanya, karena itu berbaik sangka padaNya merupakan suatu doa dan pengharapan. Dalam Al Qur’an kata “kemudahan” merujuk lebih dari 40 pengulangan dari pada “kesulitan” dengan pengulangan sebanyak 12 kali. Berarti Allah selalu menginginkan kemudahan bagi kita dari pada kesulitan.

Berusaha meraihnya dengan memohon selalu petujuk Allah, setelah berusaha biarlah Allah yang menentukan, menghiba setiap langkah, agar selalu dibimbingnya. Jikalau-pun hati mantap, sesuai dari apa tujuan, cita-cita, harapan yang kita capai, dan kita menimbang sesuai untuk masa depan kita kelak, jangan ragu raih dan kejarlah.

Jika kita berani mengambil resiko dan berusaha berarti ia memang tepat untuk masa depan kita, kalau tidak berani, berarti kita BUKAN kategori kelayakan itu, hidup memang untuk berusaha. Allah akan selalu memberikan “ruang” ikhtiar pada manusia. Namun Allah tidak mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sampai kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka


Kesempatan akan selalu ada …

Tiada pembedaan dari suatu makhluk bernama manusia, wanita, pria, besar, kecil, dewasa, anak-anak, tua.

Kesempatan yang Allah berikan akan selalu ada dan banyak, tiada terkira kadang sering tidak menyadarinya. Seolah kalau diumpamakan berbagai ”gerbong” kereta api istimewa, yang panjaaang dan tiada terputus. Tetapi semua rahasia Allah, yang Maha ghaib, kita tidak tau apa yang terjadi, bahkan lima menit yang akan datang ghaib bagi kita

Berbagai gerbong terlewati di kehidupan kita, misalnya, ”gerbong” sekolah, kehidupan, pekerjaan, masa depan dan banyak pula ”gerbong-gerbong” yang lain. Kadang disuatu waktu dikehidupan kita Allah menawarkan banyak ”gerbong” yang ada di depan mata, ada yang mewah (menyilaukan mata), ”gerbong” di kelas menengah, ada yang juga seadanya (seperti layaknya kereta api ompreng). Semuanya tawaran dari Allah, sebuah tawa lebar saat ”gerbong yang lewat eksklusif”, seperti kereta api modern dengan daya medan magnet listrik yang melaju cepat dengan teknologi tinggi. Kadang ”gerbong” yang datang tidak hanya satu, sehingga dihadapkannya banyak pilihan, atau malah kita menjadi bingung?.

Tak jarang pula kita di hadapkan ”gerbong” yang memang harus ”mau atau tidak mau” dinaiki, tiada pilihan lain. Sumpek, banyak orang memperebutkannya, terasa lelah, berat saat berdesak-desakan, belum lagi dari lawanan arah sesama penumpang yang bersikut sana-sikut sini, disalahkan, dimarahi. Tanpa disadari muncul umpatan dalam hati, kenapa harus seperti ini?. Tetapi Allah seolah selalu tersenyum, dengan kesabaranNya meskipun kita mengumpat, ternyata itu langkah yang tebaik. Jawaban Allah akan selalu ada pada kita manusia yang memang kurang sensitif. Karena kealpaan, kita tak tau arti sinyal-sinyal itu, seolah tersirat di setiap kehidupan. Proses menuju pendewasaan, bersyukur karena Allah telah memberikan jalan dan kesempatan. Kalaupun boleh memilih, maka tiap orang pasti ingin menjadi yang ideal. Coba telusuri lebih jauh, bukankah dengan, ”hentakan” dalam hidup, mudah sulitnya hidup, berkumpul dan perpisahan dengan orang yang kita sayangi, itulah ”merah-kuning-hijau” warna-warni dalam hidup ini. Kita akan semakin tau arah hidup ini, saat lampu merah, tiada ragu kita berkorban untuk yang lain. Semakin kita ikhlas berkorban semakin menjukkan keluhuran akhlak (M. Quraish Shihab). Berprestasi dalam keterbatasan merupakan suatu keberhasilan dalam bentuk yang lain. Keterbatasan yang diartikan kondisi ekonomi, waktu dan keadaan yang menyempit atau yang mengalami kurang sempurnanya fisik. Karena keterbatasan itulah kita mampu melangkah 5-6 kali lebih lebar dari jangkauan kita. Menjadi lebih kuat, kreatif, mandiri dengan keadaan dan bersikap solutif. Tentunya kita sepakat bahwa hidup bukan untuk diratapi, yuk bersemangat akan selalu ada hari-hari yang baru ………. (^_^)

 

 

Pintaku Pada-Mu :

Ya Rabb segala tambatan di kehidupan ini, hindari kami dari rasa malas dan berputus asa, istiqamahkan hati dan langkah, berikan kemudahan dan jalan yang terbaik dikehidupan

Wahai Zat yang patut dipuji, tutuplah segala aib kami, cukuplah Engkau yang mengetahuinya dan berikanlah kesempatan untuk memperbaikinya

Ya Allah, Ya Tuhanku, berikanlah umur pajang pada kami, orangtua kami, saudara-saudara kami semua, agar dapat dijamu oleh RamadhanMu, menghiba dengan kerahmatanMu

Wahai Allah, pemelihara dan pengatur alam raya, permudahkanlah urusan kami, hidupkan dan matikan kami dengan iman, berikanlah kami semua akhir masa yang baik

Ya Ghafuur, berkahilah kami semua, keluarga dan rumah kami, hidup, ilmu, usia, rezki dan pekerjaan, mafkanlah apabila kami dengan atau tanpa sengaja mengambil hak yang bukan hak kami, ridhoilah kami semua dengan keampunanMu

Duhai Allah, ikatkanlah hati hamba dengan rasa cinta dan kasih karenaMu, setulus hati menjalaninya, kalaupun Kau pilihkan untukku, dengannya bertambah dekatku kepadaMu,  dengannya bertambah syukurku kepadaMu, dengannya selalu ada ketenangan dan kesejukan jiwa yang bermuara kepadaMu, Amiin Ya Rabbal’alamin

Sekiranya Engkau kabulkan permohonan kami, …. Teranglah hati, teranglah jiwa, teranglah hidup dengan taubatNya …


Doa Ketulusan Nabi Daud AS, : ”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat menghantarkanku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikan cintaMu lebih kucintai

daripada diriku dan keluargaku serta air dingin sekalipun

(HR. Tirmidzi)

 

Sumber Pustaka :

Aidh Al-Qarni, 2005. La Tahzan (Jangan Bersedih). Jakarta : Qisthi Press

Elfata, Edisi 12, Volume 05, 2005

Elfata, Edisi 7, Volume 06, 2006

Hadilla, Edisi 38, Agustus 2010

Sa’id Hawwa. 2006. Tazkiyatun Nafs : Kajian Legkap Penyucian Jiwa, Jakarta : Pena Pundi Aksara.

Stewart, Grant. 1995. Manajemen Penjualan : Kiat Membentuk Tim Yang Tangguh. Terjemahan : Y. Budianto Menoreh. Jakarta : Erlangga.


Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image