Prof. Bambang Setiadji, Rektor UMS, Surakarta : Wirausahawan, Membangun Kemuliaan

Up Date Desember 2011 : Pilih Categories disamping / Home & About di atas:

Key Word : Wirausaha, Pendidikan, Anak

Di hari Sabtu disebuah kelas diadakan kegiatan jual beli setiap minggu ketiga dalam satu bulan. Terdapatlah seorang anak membawa tiga buah kantung palstik kecil yang diberi air. Didalamnya terdapat berbagai jenis ikan, ada ikan lele, cupang ikan hias yang semua besarnya tak lebih dari jari kelingking mungil. Tertawa geli melihatnya. Ketika ditanya berapa harganya?, ia menjawab : “satu ikan lele dua ratus rupiah, cupang seribu lima ratus dan ikan hias lima ratus rupiah”. Tak lama belum ada lima menit sebagian anak putra dikelas mengelilinginya. Laris manis tanjung kimpul, semua sudah dipesan oleh teman-temannya. Ia ambil satu plastik kosong untuk memilahkan ikan-ikan yang dibeli sesuai pesanan. Hari ini ia membawa lima ekor ikan lele kecil. Dipilahkannya dua ikan lele untuk diberikan kepada temannya sesuai pesanan. Disaat akhir kegiatan jual beli, seperti biasa mereka mengisi lembar kegiatan jual beli. Berapa harga membeli barang, menjualnya bahkan laba, rugi atau impas mereka tulis semuanya. Harap … harap … cemas, siapa ya hari ini yang berhasil meraih smile face dari ustadzah dengan kategori pilihan : siswa yang gigih menawarkan barang dagangannya, barang yang di bawa habis dan menapatkan laba.

Enterpreneurship
Melihat tingkah anak-anak yang menawarkan barang dagangan lucu sekali. Ada yang gigih menawarkan dengan tawaran bonus, beli satu pencil dapat satu smile face. Sampai bentuk smile face mereka tiru karena sulitnya meraih dan ”berjuang” mendapatkan smile face. Ada lagi yang senang sekali barang dagangannya laku dijual dengan harga semurah murahnya, ”yang penting barang dagangannya habis” … kata salah seorang siswa. Lagi-lagi tertawa kami mendengarnya, tentunya setelah mereka mengisi lembar jual beli dengan pelan-pelan dijelaskan kepada anak-anak. Di bulan ketiga, terlihat semakin mahir beberapa anak muncul ”bakat” bisnis. Mulai mereka memahami ”pangsa pasar kelas,” kira-kira minggu ini apa yang paling laku?, dan mereka membawanya untuk diperdagangkan.

Kata wirausaha atau enterpreneur pada dasarnya biasa disederhanakan menjadi aktivitas berdagang. Menciptakan pekerjaan baru untuk dirinya senfiri atau orang lain baik dengan produk barang ataupun jasa, menurut Prof. Bambang Setiadji. Kemuliaan dalam berdagang adalah mana kala mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Prof. Bambang Setiadji juga menjelaskan pada saat dimasa Rasulullah kehidupan berwirausaha merupakan pekerjaan yang mudah dutemui dimasa itu. Bahkan, Rasulullah Saw mencontohkan untuk bekerja keras dan meraih kesejahteraan dari berdagang. Bekerja keras bagi seorang muslim adalam bentuk ibadah. Bekerja yang selama ini dikaitkan urusan dunia pada dasarnya setara dengan nilai-nilai ibadah di mata Allah Swt. Hikmah yang luar biasa dalam ajaran Islam seperti yang diajarkan sang enterpreneur sejati Rasulullah, mengambil kesempatan meraih 90% rezeki dengan berdagang, meraih kekayaan dengan wirausaha

Mengenalkan si kecil, apa itu berwirausaha?
Menjadi wirausahawan, selain melaksanakan sunah rasul juga merupakan sebuah pilhan profesi atau cita-cita yang cerdas. Selama ini masih banyak pola pikir dengan mindset terbiasa dengan cita-cita bekerja pada kantor atau disuatu instansi yang dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi pengusaha, tiada salahnya pula tetapi perlu ditelaah lebih jauh. Umumnya orientasi pendidikan baik dirumah atau disekolah menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, karena itu diperlukan pula pengajaran untuk menciptakan lapangan kerja. Prof. Bambang Setiadji menambahkan, penduduk Indonesia sekitar 230 juta jiwa, sementara ini pemerintah hanya bisa menyediakan pekerjaan 40 juta. Tentunya lapangan pekerjaan tersebut sangat kurang dengan realita. Karena itulah, lapangan pekerjaan harus diciptakan melalui peran pengusaha. Belum lagi kebiasaan masyarakat Indonesia adalah ingin mencari posisi yang ”save”, aman dengan gaji yang tetap sebagai karyawan (meski terbatas dan kurang bisa berkembang). Menurut Prof. Bambang Setiadji, beberpa point yang penting untuk dikenalkan pada si kecil bagaimana dan apa berwirausaha :

-Mengenalkan secara dini melalui simulasi
Sebait cerita di atas sebagai pembuka bagaimana menstimulasi anak-anak dalam mengenalkan apa itu berwirausaha. Meskipun secara sederhana melalui bermain secara proses merupakan bagian yang dikenalkan bagi anak-anak. Melatih menganalisis secara sederhana barang yang laku, laba yang diambil. Apa yang perlu diperhatikan dalam berwirausaha melalui evaluasi weekly journal jual beli. Jenis barang yang diperdagangkan, berapa harga jual dan beli bagian dari belajar dari matematika pula

-Berperan secara langsung
Menghitung, melatih dan mengelola bukan hanya diajarkan secara teksbook yang dapat dibaca, tetapi bagimana pembelajaran yang dikemas dapat membekas dalam sanubari anak-anak. Konsep pemahaman yang mudah bagi anak-anak manakal mereka dapat melakukannya secara langsung. Misalnya, magang di koperasi sekolah disela-sela istirahat yang dijadwalkan secara bergilir, ikut ”menjualkan” barang dagangan di kopersi sekolah

-Berlatih mandiri dan menabung
Berlatih secara mandiri dan mengenalkan pada anak-anak dapat dilakukan dirumah. Seorang anak dapat dikenalkan apa yang dikerjakan orangtuanya. Dengan melibatkan anak dalam urusan berdagang, maka ia akan paham bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk bersekolah. Ketika mengingkan sesuatu, perlu anak diajarkan menabung dengan menyisihkan uang jajan agar dapat memenuhi keinginannya tersebut.

-Meningkatkan minat dan kreatifitas
Banyak peluang dari berwirausaha yang kadang dimulai dari kesadaran akan potensi diri sendiri. Orangtua memang tak perlu memaksakan kelak apa yang harus dan mau tidak mau dilakukan anak berkaitan dengan cita-cita dan harapan mereka. Selama masih dalam koridor positif, tidak menyalahi aturan-aturan agama perlu didukung dan dihargai. Keterampilan wirausaha menjadi investasi bagi anak-anak, karena membekali mereka dengan keterampilan dan pengalaman.

-Leadership dan berani mengambil resiko
Salah kunci dalam leadership adalah kekuasaan. Kenalkan anak bagaimana ia mengatur secara dini apa yang dapat mereka lakukan untuk mengolah terampil menjadi usaha. Apalagi jika orangtua seorang pedagang akan lebih mudah menanamkannya pada anak. Di suatu waktu perlu anak dilibatkan untuk menjaga toko misalnya. Ketika anak telah tumbuh semakin besar, maka ia dapat dilatih menjadi pengawas atau supervisor. Mengawasi dan mengelola jalannya usaha apa yang perlu dikembangkan agar dapat berjalan dan memperoleh keuntungan.

Banyak kebaikan yang kita peroleh dalam berwirausaha. Bukan sesuatu yang lebih rendah manakala seorang berdagang secara jujur dan berusaha bekerja keras. Melalui semangat dan optimis akan selalu dituntut untuk semangat merealisasikan visinya dalam keadaan sulit sekalipun. Berusaha untuk selalu menambah ilmu dan keterampilan sehingga tidak membosankan. Selalu berfikir positif dan menemukan tantangan. Begitu juga selalu bertawakal dan bersyukur untuk fokus mengupayakan apa yang dapat dilakukan mencapai tujuan

nrj_nurratnajuwita@pkmedia

Deteksi Mudah Memilih Makanan yang Sehat

Mariani, dr, M.Si (Dosen FK – UNS)
Up Date November 2011 : Pilih Categories disamping / Home & About di atas:

Key Word : Makanan sehat, siasat bagi anak

Kalau kita sebagai orang awam, bisa nggak ya mengidentifikasi makanan jajanan yang berbahaya?”, insya Allah kita bisa memilih makanan yang aman atau layak dikonsumsi”, itulah jawaban dari dr Mariani, M.Si. Ibu dokter yang satu ini juga tim anggota Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Tahukah kalian Mikrobiologi?, ilmu yang khusus meneliti seluk-beluk mikrobe (bakteri, virus, protozoa) secara umum, baik yang bersifat parasit (merugikan) maupun yang penting bagi kesehatan, pertanian, industri, dan lain sebagainya (pen). Ayo simak lebih jauh hasil wawancara dengan beliau

Apa yang perlu diwaspadai dari kandungan makanan jajanan sekarang ini?
Makanan jajanan dapat beresiko menimbulkan berbagai penyakit, baik itu penyakit infeksi ataupun penyakit non infeksi. Dari penelitian di bidang mikrobiologi, banyak ditemukan mikroorganisme (baca ; kuman) pada makanan jajanan, seperti :
 Vibrio coma penyebab kolera
 Salmonella typhii penyebab demam typhoid
 Shigella shigae penyebab disentri
 Escherecha coli penyebab diare, dan kuman-kuman yang lain
Selain itu yang umum ditemukan adalah sangat beresikonya terjangkit penyakit utamanya infeksi saluran pencernaan.
Jajanan juga seringkali ditemukan mengandung bahan-bahan tambahan (zat aditif) yang berbahaya apabila jumlahnya berlebihan, seperti MSG, zat pewarna, zat pengawet dll. Zat tersebut apabila dikonsumsi terus menerus membahayakan fungsi alat vital tubuh seperti otak, ginjal, hati dsb.
Yang lebih mencengangkan adanya pengolahan makanan daur ulang, yaitu makanan yang dimasak dari bahan baku makanan basi. Ini sangat berbahaya karena selain mengandung kuman, juga mengandung jamur yang dapat mengeluarkan racun yang merusak ginjal dan hati manusia.

Jika kita lihat sekilas makanan jajanan tampak sama dari segi penampilan ataupun rasa yang disajikan, bagaimana membedakan makanan yang membahayakan atau tidak ?
Membedakan makanan yang membahayakan dan yang tidak seringkali sulit bagi masyarakat umum. Beberapa hal yang perlu kita ketahui yaitu :
- Bila rasa makanan terlalu gurih (anak-anak sangat suka) merupakan tanda bahwa makanan tersebut terlalu banyak MSG
- Bila gorengan terasa sangat renyah, maka mungkin minyak goreng tercampur dengan polimer plastik
- Bila makanan berwarna sangat cerah dan menyolok, misalnya merah, kuning, orange, mungkin makanan ditambah
dengan zat pewarna yang bukan pewarna alami
-Bila makanan tidak mudah basi, maka dapat memungkin bahwa makanan tersebut mengandung zat pengawet.

Banyak sekali kita dapati terlalu apriori pada makanan jajanan, adakah sisi positif dari jenis makanan jajanan?
Kandungan gizi dalam makanan jajanan tentu ada, misalkan rujak buah yang mempunyai banyak vitamin-nya. Lontong sate tetap ada karbohidrat dan protein-nya. Tempe mendoan, sosis, tempura, kue terang bulan, cakue dll, tetap mengandung zat gizi apabila sesuai bahan yang digunakan, tidak melanggar aturan penggunaan dan juga kebersihan pengolahannya. Namun resiko menimbulkan penyakit tetap ada dari hal-hal telah diutarakan didepan tadi.

Bagaimana memilih makanan jajanan yang layak dimakan agar terhindar dari efek jangka panjang akibat salah memilih makanan ?
Untuk melihat makanan yang layak dimakan, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang, antara lain :
- Bahan yang dipakai :
Bahan segar (bukan daur ulang), tidak menggunakan zat pewarna buatan, tidak mengandung zat pengawet, tidak menggunakan penyedap rasa terlalu banyak, tidak mengandung bahan-bahan berbahaya lainnya.
- Cara pengolahan :
Bila digoreng, minyak penggorengan jernih, tidak terlalu sering dipakai.
Bila minyak penggorengan terlalu pekat (coklat) mungkin telah berulang kali dipakai, hal tersebut akan meningkatkan resiko terjadinya kanker bagi yang mengkonsumsinya.
Bila direbus atau dikukus, air kukusan bersih tidak dicampur dengan bahan-bahan pengawet misalnya garam bleng (cetithet, dalam bahasa Jawa, pen)
- Penanganan makanan :
Selalu menonjolkan segi higiene dan sanitasi. Tempat memasak, wadah makanan dan saluran pembuangan limbah yang bersih
- Penyajian makanan :
Selalu tertutup
Bila yakin akan hal tersebut, makan insya Allah makanan tersebut aman atau layak dikonsumsi.\

Tips atau langkah apakah yang dapat dilakukan orangtua apabila menghadapi anak yang meminta street food ?
Salah satu cara agar terhindar dari rengekan putra putri untuk ‘jajan’ adalah dengan membuatkan sendiri makanan serupa di rumah. Bila anak ribut minta bakso kojek, kita buatkan sendiri. Demikian pula dengan cimol, sosis, tempura, mie dll. Jangan lupa juga memberitahu anak bahwa jajan makanan di jalan dapat menimbulkan penyakit yang merugikan kita. Kita perlu juga lho berpromosi bahwa buatan mama lebih top markotop dari pada jajanan di jalan. Buatan mama lebih enak, lebih bergizi, dan lebih aman

nrj_nurratnajuwita

Sub Topik “Wawancara Utama” telah dimuat di Majalah PK Media,
(edisi : XII, Juni tahun 2009)

Tags:

SI KECIL “GANDRUNG” JAJAN

Up Date September 2011 : Pilih Categories disamping / Home & About di atas :

Key Word : Makanan sehat, siasat bagi anak

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah dalam segala-galanya, dimana kamu beriman kepadaNya “
( QS. Al-Maaidah: 88)

Toet . . . toet . . . toet, tidak kurang dari satu menit penjual cilot sudah dikelilingi anak – anak kecil. Cukup beraneka ragam pedagang yang berjajar rapi menggelar dagangannya. Siomay, patric, tempura, bakso kojek atau cilok, otak-otak, telur dewa (telur yang dilapisi adonan gandum) serta minuman dengan berbagai warna dan rasa. Es serut warna pink rasa coco pandan, es goreng dengan rasa coklat, es kocok hijau rasa melon dan banyak lagi minuman dan makanan yang dijajakan.

Banyak anak yang menggandrungi berbagai jenis makanan di atas. Meskipun tidak semua makanan jajanan berbahaya, tetapi juga perlu kita waspadai adalah sudahkah makanan yang dimakan si kecil sesuai dengan asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh? atau malah merugikan bagi tumbuh kembangnya kelak.

“Anak adalah buah hati titipan Allah, tentulah kita menginginkan yang terbaik pula bagi si kecil demi masa depannya kelak”.

Jika memang asupan gizi dapat terpenuhi, sudahkah higienis makanan dan minuman dalam proses pembuatan serta bahan baku yang aman bagi tubuh mereka.

Data yang diperoleh dari PDPERSI (Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia), mengungkap bahwa pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% - 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Bakteri tersebut adalah penyebab penyakit tifus pada anak. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Sekilas nikmat dipandang mata dengan warna mencolok serta rasa yang lumayan memikat.

“Belakangan juga terungkap bahwa reaksi makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan bicara, hiperaktif hingga memperberat gejala pada penderita autism (pdpersi.co.id)”

Berita yang akhir-akhir ini kita dengar ditelevisi memang mencengangkan ternyata banyak makanan jajanan yang mengandung borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang lama-kelamaan dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia.

Bagaimana jika si kecil terlanjur “gandrung” pada makanan jajanan (street food)?
Makanan bukan hanya dilihat dari kehalalan tetapi juga makanan yang dikategorikan baik (halaalan thoyyiban). Artinya, makanan yang tidak berbahaya bagi tubuh, tidak basi atau berbau busuk, tidak kotor (baik dalam proses pembuatan, pengemasan dan penampilannya). Dari berbagai sistem di tubuh kita, hampir sebagian besar bergantung pada apa yang kita konsumsi serta gaya hidup yang dibiasakan. Seperti tulang otak, paru-paru, hati, otot, alat-alat pencernakan atau saluran pembuangan, semua ini mempunyai andil dalam segi pemenuhan asupan. Apabila kita mengkonsumsi makanan yang halal serta sesuai dengan asupan gizi, akan membentuk otot yang kuat, saluran pencernakan yang bersih dan lancar, jantung bekerja maksimal untuk memompa darah serta otak yang mendukung untuk berpikir secara jernih dan cemerlang. Agar anak lebih gemar menu utama dari pada camilan jajan diperlukan strategi khusus.

Menurut dr. Widodo Judarwanto (2004: 26)
Ketika anak memasuki masa akan sekolah, ada saatnya anak sulit makan, bahkan hanya gemar pada makanan tertentu. Ada beberapa anak yang mau makan nasi dan kerupuk saja. Dalam perkembangan perkepribadiannya anak mulai ingin menunjukkan dirinya dan independensinya sehingga menentukan sendiri apa yang hendak dimakannya.

Saat inilah strategi menu kreatif diperlukan, agar anak mengurangi kecenderungannya pada makanan jajan. Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat dengan anak dan paling banyak waktu untuk berinteraksi. Anak yang lebih banyak mengkonsumsi street food dari pada makanan utama memerlukan perhatian khusus bagi orangtua. Apalagi anak yang terlanjur lebih banyak menikmati hingga ia kenyang akan berakibat tidak terkonsumsikannya menu makanan utama yang bergizi.

Berikut merupakan beberapa tips yang dapat dijadikan pertimbangan bagi orangtua yang menghadapi anak yang lebih suka jajan :

- Pendekatan psikologis
Reaksi orangtua kadang berlebihan ketika melihat si kecil jajan makanan di pinggir jalan, berteriak-teriak tak jarang pula orangtua tidak memberikan uang tanpa memberikan penjelasan kepada anak.

“Melarang sesuatu saat anak masih kecil tanpa penjelasan akan dapat membuatnya lebih berkeinginan kuat terhadap makanan tersebut setelah besar. Binalah komunikasi dengan sentuhan kasih sayang. Jauhi perasaan emosi, marah serta pemberian ancaman atau hukuman misalnya : “kalau jajan di pinggir jalan, nanti kalau ke dokter disuntik lho”.

Memasuki masa konkrit anak, selain penjelasan secara lembut dengan bahasa yang mudah, sesekali ajak si kecil untuk secara langsung melihat penjual yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Ajak ia berfikir meskipun secara sederhana, misalnya “kalau makanan tidak ditutup lalu dimakan adek, bagus tidak”?. Atau ajak ia ke dokter saat ia sakit, biarkan ia mendengarkan nasehat dokter makanan apa saja yang tidak diperbolehkan makan.

- Ciptakan variasi makanan
Mencoba dengan bahan yang sama yang biasanya digunakan untuk menu utama dapat diubah menjadi kudapan (camilan). Resep yang berbeda dapat dilakukan, misalnya : jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan, sepeti kue jagung, bakwan jagung dan jenang jagung

- Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi di antara makanan utama
Altenatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan ketela pohon misalnya, ketela pohon direbus, dihaluskan, dikepal, tambahkan gula merah di dalamnya, celupan dalam kocokan satu butir telur lalu goreng.

Menu yang lain yang dapat dipraktekkan adalah : wotel (tambahkan daging jika ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan, tambahkan kecap sedikit, gula dan garam secukupnya.

- Perhatikan penamilan makanan
Tidak ada salahnya sesekali di sela-sela waktu kesibukan kita berikanlah variasi pada penampilan makanan, meskipun dengan resep yang sama pula. Mulai dari bentuk, tekstur, warna, sampai rasa dari makanan. Kreatiflah dalam menyajikan makanan. Nasi goreng yang terhidang di meja berbentuk wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis dan hidung dari ketimun. Jika anak gemar dengan menu utama yang dibuat ibu, tentulah akan mengurangi keinginnya untuk jajan karena perutnya telah terisi kenyang.

- Memilih kudapan yang bijak
Walaupun kita tidak dapat menggeneralisasi bahwa semua makanan jajanan mengandung bahan-bahan yang merugikan tubuh, tetapi memerlukan tindakan preventif kita sebagai orangtua. Apalagi apabila anak memang benar-benar menginginkan makanan jajanan. Secara minimal dapat dilihat dari lokasinya, apakah lokasi penjualan bersih dan terlindung dari matahari, debu, hujan, angin dan asap kendaraan bermotor serta jauh dari sumber kontaminasi seperti sampah, dari binatang ataupun hama. Jangan membeli makanan yang dijual di tempat yang kotor atau tercemar. Jika terpaksa membeli, pilih makanan yang ditutup untuk melindunginya dari kontaminasi.

Belilah makanan jajanan yang masih panas dan langsung dimakan setelah panasnya hilang. Hindari membeli dan mengkonsumsi makanan jajanan yang sudah dingin serta membeli makanan jajanan yang harusnya dingin, tapi sudah tidak dingin lagi.

Keripik kentang yang mengandung beberapa protein dan karbohidrat, atau es krim yang mengandung kalsium. Hindari makanan yang tampak menarik dari luarnya saja, misalnya warna yang “menggiurkan”. Banyak kudapan kripik yang dijual sudah dalam bungkus plastik (kemasan) periksalah tanggal kadaluarsa yang tertera serta komposisi dan bahan baku yang digunakan. Apabila tidak tertera dalam kemasan sebaiknya hindarilah untuk membelinya.

- Ikutkan anak dalam menentukan menu makanan yang akan dimakan
Jika anak merasa menjadi bagian dari aktivitas, biasanya anak menjadi lebih tertarik. Gunakan lembar berisi informasi tentang makanan bersih beserta gambar, misalnya daging yang direbus, ikan yang ditutup dengan tudung, dll. Tanyakan pula apa keinginannya, agar menjadi semakin menginginkannya untuk menikmati menu utama. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi keinginannya untuk jajan.

- Memunculkan perasaan gembira pada anak saat menikmati menu utama bersama keluarga
Buat senyaman mungkin saat si kecil menikmati menu mereka. Ajaklah bercakap-cakap pentingnya menu sehat yang terhidang di depan mereka sembari mensyukuri pemberian Allah. Peristiwa yang menyenangkan akan memberikan memori yang kuat pada anak. Si kecil akan meminta menu buatan bunda yang disukainya untuk dinikmati bersama-sama.

Islam mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam segala hal, tak tekecuali masalah makanan. Allah menyuruh manusia memakan apa saja yang ada didunia ini dan diciptakanNya, sepanjang batas-batas yang halal serta baik (thayyibah). Sudah sepantasnyalah kita berhati-hati dalam memilih makanan, baik dari segi jasmani dan rohani. Janganlah lupa untuk selalu berdoa sebelum serta sesudah makan, agar Allah selalu memberikan berkah kepada makanan yang akan kita makan.

nrj_nurratnajuwita
Artikel telah dimuat pada Buletin Suara Program Khusus
Edisi 3/VIII/11

Sumber Pustaka
copyright © 2003 pdpersi.co.id
http://www.kompas.co.id/
Patsy Westcott. 2003. Makanan Sehari Untuk Bayi dan Balita. Jakarta: Dian Rakyat
Widodo Judarwanto. 2004. Mengatasi Kesulitan Makan Pada Anak. Jakarta : Puspaswara

Tags:

Tak Kuulangi Lagi

Up Date September 2011 : Pilih Categories disamping / Home & About di atas :

Key Word : cerpen anak

Seperti biasa kebiasaan Alif tak pernah meletakkan barang-barang perlengkapan sekolah pada tempatnya. Dari sepatu hingga ikat pinggang bahkan tas sekalipun tak pernah ia letakkan pada tempatnya, selalu seenaknya sendiri.

”Alif ayo letakkan sepatu di rak sepatu nak,” kata bunda Alif.

Selalu jawaban Alif dengan ketus, ”biarlah bun, nanti mbok Inah yang merapikannya!” sembari melepaskan kaos kaki yang dilempar-lemparkannya di bawah kolong kursi.

Menggeleng-geleng bunda Alif dengan kebisaan putranya, selalu saja begitu, tak mau mendengarkan nasihatnya.

Kebiasaan Alif memang tidak patut dicontoh, hingga tidur-pun tak pernah ia menggosok gigi, membersihkan kaki dan mencuci muka.

Apalagi berdoa, sudah lupa tentunya, setelah di atas kasur empuknya yang bergambar bendera kelompok sepak bola kesayangannya.

Seperti nama sebuah bus, ”langsung jaya”, langsung saja ia tidur, pergi ke pulau kapuk …

Hingga suatu pagi di hari Senin, terkejut ia dengan suara jam weker yang bergambar kelompok sepak bola, ”Kriiiiing …..”, tergopoh-gopoh ia terbangun.

”Ha … aku mengompol,” bisiknya dalam hati. Segera dilipat tempat tidur dan menurupinya dengan tumpukan-tumpukan selimut. Tak lupa pula ia berpesan pada si Miau, kucing kesayangannya.

”Ssst … jangan bilang ya Miau kalau semalam aku ngompol,” kata Alif sambil berbisik, hampir tak terdengar suaranya.

Terdengar ketukan pintu dan suara dari luar.
”Alif, sudah bangun sayang, jangan lupa sholat subuh, gosok gigi dan mandi ya nak,” suara lembut bunda yang tak henti-hentinya mengingatkan Alif. Terkejut Alif dengan suara itu, refleks ia menjawab.

”Su … sudah bun, aku mau sholat dan mandi ini”.

”Alhamdulillah, putra bunda sudah bangun, lekas makan ya nak sebelum pak Kusnan datang, agar tak terlambat nanti mobil antar jemputnya.”

Serta merta Alif mandi sholat dan menjinjing tasnya menuju ruang makan. Ayah, oma dan opa sudah menunggu di meja makan, tak ketinggalan pula si belang Miau yang berada di bawah meja, seolah ia tak mau ketinggalan pula.

”Bagaimana pelajarannya Alif, semalam sudah belajarkan?” kata Ayah Alif.

”Sudah Yah, hari ini ulangan PKn, sudah menghafal kemarin dengan bunda, bahkan latihan juga sudah ku kerjakan”.

”Alhamdulillah, putra ayah yang sholeh, belajar yang rajin ya,” kata ayah sembari menepuk punggung Alif.

Selesai makan langsung Alif mencari kaos kaki dan sepatunya. Melihat tingkah laku Alif, langsung ayah memanggilnya.

”Alif, kalau sudah makan apa yang dilakukan nak?”

”He he … lupa aku yah, berdoa ya,” bergegas ia berdoa dengan mulut komat-kamit. Tak lupa ia berpamitan dan mencium tangan ayah, opa dan oma. Diambil sepatunya di rak yang telah dirapikan, tetapi … ada yang kurang, kaos kaki hitam yang biasanya diletakkan di dalam sepatu.

”Mana kaos kakinya ya?” kata Alif dalam hati. Ditengoknya di bawah kolong kursi, di samping rak sepatu hingga di bawah kolong almari.

”Bim … bim … bim …” terdengar suara klakson mobil antar jemput. Rupanya pak Kusnan sudah berada di luar. Alif masih kebingungan mencari kaos kaki. Hampir saja matanya berkaca-kaca, akan menangis.

Terdengar lagi suara klakson mobil, ”bim … bim … bim”, bunda Alif sudah berada di luar sembari membawakan bekal makanan untuk nanti jam tambahan.

”Alif, pak Kusnan sudah diluar nak, ayo cepat hari Senin apel pagi, agar tak terlambat.”

Alif keluar dengan menjinjing sepatu dan bermuka masam.

”Bun, kaos kakiku tak ada, tadi aku mencari mbok Inah juga tidak ada, dimana ya mbok Inah kemarin meletakkannya?” kata Alif dengan suara parau.

Akhirnya mobil antar jemput berlalu begitu saja, setelah bunda Alif memberikan penjelasan pada pak Kusnan, kalau Alif belum siap.

Tersenyum simpul bunda Alif, sembari ia duduk di samping Alif yang sesenggukan. ”Kenapa bisa hilang Alif?” tanya bunda Alif.

”Kemarin aku lepaskan bun, ku lemparkan dibawah kolong kursi.”

”Kenapa dilempar di bawah kolong kursi nak,” tanya bunda Alif dengan ramah dan sabar.

”Agar tidak tersampar waktu jalan bun, lagi pula nanti-kan diambil mbok Inah.”

” Alif hari Sabtu asam urat mbok Inah kambuh, ia pulang ke desa dan sekarang digantikan keponakannya,” kata bunda dengan menengadahkan kepalanya.

”Hah … berarti kemarin kaos kakiku disapu ya?”, kata Alif terkejut.

”Ya mungkin, keponakan mbok Inah hanya merapikan sepatumu di rak sepatu, tetapi ia tidak memasukkan kaos kaki di dalam sepatu.” kata bunda Alif. ”Dan yang pasti pula belum dicuci pula kaos kakinya”.

“Ini memang salahku bun, seharusnya keletakkan kaos kaki, sepatu dan tas pada tempatnya, agar tidak kebingungan saat akan berangkat sekolah,” katanya dengan menundukkan kepala.

”Pintar anak bunda, … eh ngomong-ngomong tadi tempat tidur Alif juga basah ya?”

”He he he … semalam aku ngompol bun, aku mimpi dikejar anjing hingga lari tergopoh-gopoh dan ngompol,” kata Alif dengan wajah malu-malu.

“Tau nak adab sebelum tidur?” tanya bunda Alif dengan menghela nafas panjang.

”Ya bun aku tau, gosok gigi, cuci muka dan kaki, berdoa baru tidur.”

”Betul Alif, kenapa tidak dilakukan?”

”Aku malas bun, tetapi mulai hari ini akan aku rubah kebiasaan burukku, agar lebih tertib dan sehat, betul tidak bun,” kata Alif tersenyum.

”Alhamdulillah tambah pintar lagi anak bunda, cepat pakai kaos kaki baru, berangkat bersama ayah ya … agar tidak terlambat,” kata bunda Alif sembari mengacungkan jempol.

”He he … terima kasih bunda, Alif berangkat dulu ya,” kata Alif dengan memcium tangan buda dan berdoa sebelum berpergian

”Ya, hati-hati ya nak,” kata bunda Alif dengan senyum dan mengangukkan kepala.

Seperti biasa kebiasaan Alif tak pernah meletakkan barang-barang perlengkapan sekolah pada tempatnya. Dari sepatu hingga ikat pinggang bahkan tas sekalipun tak pernah ia letakkan pada tempatnya, selalu seenaknya sendiri.
”Alif ayo letakkan sepatu di rak sepatu nak,” kata bunda Alif.

Selalu jawaban Alif dengan ketus, ”biarlah bun, nanti mbok Inah yang merapikannya!” sembari melepaskan kaos kaki yang dilempar-lemparkannya di bawah kolong kursi.

Menggeleng-geleng bunda Alif dengan kebisaan putranya, selalu saja begitu, tak mau mendengarkan nasihatnya.

Kebiasaan Alif memang tidak patut dicontoh, hingga tidur-pun tak pernah ia menggosok gigi, membersihkan kaki dan mencuci muka.

Apalagi berdoa, sudah lupa tentunya, setelah di atas kasur empuknya yang bergambar bendera kelompok sepak bola kesayangannya.

Seperti nama sebuah bus, ”langsung jaya”, langsung saja ia tidur, pergi ke pulau kapuk …

Hingga suatu pagi di hari Senin, terkejut ia dengan suara jam weker yang bergambar kelompok sepak bola, ”Kriiiiing …..”, tergopoh-gopoh ia terbangun.

”Ha … aku mengompol,” bisiknya dalam hati. Segera dilipat tempat tidur dan menurupinya dengan tumpukan-tumpukan selimut. Tak lupa pula ia berpesan pada si Miau, kucing kesayangannya.

”Ssst … jangan bilang ya Miau kalau semalam aku ngompol,” kata Alif sambil berbisik, hampir tak terdengar suaranya.
Terdengar ketukan pintu dan suara dari luar.

”Alif, sudah bangun sayang, jangan lupa sholat subuh, gosok gigi dan mandi ya nak,” suara lembut bunda yang tak henti-hentinya mengingatkan Alif. Terkejut Alif dengan suara itu, refleks ia menjawab.

”Su … sudah bun, aku mau sholat dan mandi ini”.

”Alhamdulillah, putra bunda sudah bangun, lekas makan ya nak sebelum pak Kusnan datang, agar tak terlambat nanti mobil antar jemputnya.”

Serta merta Alif mandi sholat dan menjinjing tasnya menuju ruang makan. Ayah, oma dan opa sudah menunggu di meja makan, tak ketinggalan pula si belang Miau yang berada di bawah meja, seolah ia tak mau ketinggalan pula.

”Bagaimana pelajarannya Alif, semalam sudah belajarkan?” kata Ayah Alif.

”Sudah Yah, hari ini ulangan PKn, sudah menghafal kemarin dengan bunda, bahkan latihan juga sudah ku kerjakan.”

”Alhamdulillah, putra ayah yang sholeh, belajar yang rajin ya,” kata ayah sembari menepuk punggung Alif.

Selesai makan langsung Alif mencari kaos kaki dan sepatunya. Melihat tingkah laku Alif, langsung ayah memanggilnya.
”Alif, kalau sudah makan apa yang dilakukan nak?”

”He he … lupa aku yah, berdoa ya,” bergegas ia berdoa dengan mulut komat-kamit. Tak lupa ia berpamitan dan mencium tangan ayah, opa dan oma. Diambil sepatunya di rak yang telah dirapikan, tetapi … ada yang kurang, kaos kaki hitam yang biasanya diletakkan di dalam sepatu.

”Mana kaos kakinya ya?” kata Alif dalam hati. Ditengoknya di bawah kolong kursi, di samping rak sepatu hingga di bawah kolong almari. ”Bim … bim … bim …” terdengar suara klakson mobil antar jemput. Rupanya pak Kusnan sudah berada di luar. Alif masih kebingungan mencari kaos kaki. Hampir saja matanya berkaca-kaca, akan menangis.

Terdengar lagi suara klakson mobil, ”bim … bim … bim”, bunda Alif sudah berada di luar sembari membawakan bekal makanan untuk nanti jam tambahan.

”Alif, pak Kusnan sudah diluar nak, ayo cepat hari Senin apel pagi, agar tak terlambat.”
Alif keluar dengan menjinjing sepatu dan bermuka masam.

”Bun, kaos kakiku tak ada, tadi aku mencari mbok Inah juga tidak ada, dimana ya mbok Inah kemarin meletakkannya?” kata Alif dengan suara parau.

Akhirnya mobil antar jemput berlalu begitu saja, setelah bunda Alif memberikan penjelasan pada pak Kusnan, kalau Alif belum siap.

Tersenyum simpul bunda Alif, sembari ia duduk di samping Alif yang sesenggukan. ”Kenapa bisa hilang Alif?” tanya bunda Alif.

”Kemarin aku lepaskan bun, ku lemparkan dibawah kolong kursi.”

”Kenapa dilempar di bawah kolong kursi nak,” tanya bunda Alif dengan ramah dan sabar.

”Agar tidak tersampar waktu jalan bun, lagi pula nanti-kan diambil mbok Inah.”

” Alif hari Sabtu asam urat mbok Inah kambuh, ia pulang ke desa dan sekarang digantikan keponakannya,” kata bunda dengan menengadahkan kepalanya.

”Hah … berarti kemarin kaos kakiku disapu ya?”, kata Alif terkejut.

”Ya mungkin, keponakan mbok Inah hanya merapikan sepatumu di rak sepatu, tetapi ia tidak memasukkan kaos kaki di dalam sepatu.” kata bunda Alif. ”Dan yang pasti pula belum dicuci pula kaos kakinya”

”Ini memang salahku bun, seharusnya keletakkan kaos kaki, sepatu dan tas pada tempatnya, agar tidak kebingungan saat akan berangkat sekolah,” katanya dengan menundukkan kepala.

”Pintar anak bunda, … eh ngomong-ngomong tadi kasur Alif juga basah ya?”

”He he he … semalam aku ngompol bun, aku mimpi dikejar anjing hingga lari tergopoh-gopoh dan ngompol,” kata Alif dengan wajah malu-malu.

”Tau nak adab sebelum tidur?” tanya bunda Alif dengan menghela nafas panjang.

”Ya bun aku tau, gosok gigi, cuci muka dan kaki, berdoa baru tidur.”

”Betul Alif, kenapa tidak dilakukan?”

”Aku malas bun, tetapi mulai hari ini akan aku rubah kebiasaan burukku, agar lebih tertib dan sehat, betul tidak bun,” kata Alif tersenyum.
”Pintar anak bunda, cepat pakai kaos kaki baru, berangkat bersama ayah ya … agar tidak terlambat,” kata bunda Alif sembari mengacungkan jempol.
”He he … terima kasih bunda, Alif berangkat dulu ya,” kata Alif dengan memcium tangan buda dan berdoa sebelum berpergian
”Ya, hati-hati ya nak,” kata bunda Alif dengan senyum dan mengangukkan kepala.

nrj_nurratnajuwita

Cerpen kategori pilihan favorit 1
Disampaikan saat workshop jurnalistik, bersama Astrid W (Redaktur SoloPos)
di SMP Muh PK, Juli 2011

Tags:

TERUNTUK SIKECIL ….


Up Date Agustus 2011 : Pilih Categories  disamping / Home & About  di atas :

Key Word : anak, kultur pendidikan

 

Sejauh kaki melangkah, umur kita akan berakhir juga. Kelak, pada suatu waktu yang kita tidak pernah tau kapan datangnya, Allah Swt. akan mengirimkan utusan-Nya untuk menemui kita dan menghatarkan ruh kita kehadapan-Nya. Akan ada rasa tangis kehilangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan, meski tangis itu tertahan di dalam dada. Akan ada doa-doa yang diucapkan sebagai ungkapan cinta yang begitu besar, meski sebesar-besarnya cinta mereka tak akan mau menemani kita dalam kubur. Maka ketika itu, segala bentuk penghormatan tak berguna lagi. Hanya 3 hal yang masih bisa kita harapkan : ilmu bermanfaat, amal jariyah, dan anak-anak saleh yang mendoakan.

(Disarikan dari kolom rublik ”Fuazil Adhim” pada

Majalah Hadila, Edisi 49, Juli 2011)

Pagi-pagi di awal pertama hari Ramadhan teringat majalah hadilla edisi terbaru yang telah muncul, saya buka terdapat kolom ”Fauzin Adhim”, kalimat indah pembukaan kalimat penghantar majalah. Kutipan penggugah menjadi titik yang perlu diperhatikan pembaca, bercetak tebal berada di tengah artikel bertuliskan ”berhentilah berharap dari apa yang tidak kita upayakan, berhentilah bermimpi tentang TV yang bergizi untuk kesempurnaan ruhiyah anak-anak kita, kecuali jika engkau berbuat nyata”, …

Rasa sayang yang datang melalui proses, pada saat kelelahan itu muncul anak-anak disekolah dengan segala ”perilaku gemesnya”, saat harus membuka mata pagi-pagi karena adik ujian dan harus menemani, saat saya di kelas 2 SD tidak bisa menulis tegak bersambung dan kakak kedua yang mengajarkannya menulis rapi, saat sakit diwaktu kecil ayah yang memijit dan ibu yang mengipasi, ikhlaslah semua peristiwa itu menjadikan kenangan yang indah.

Kadang saya salah membandingkan adik saya dengan temannya yang lain, karena kekesalan saya ia sulit diatur. Sering menasehati anak-anak disekolah padahal hal tersebut juga belum saya lakukan. Setiap kali merasakan nyinyir (meskipun dalam hati) ketika ibu bercerita anak si A yang berhasil, anak si B yang berhasil, padahal itu sebagai cambuk agar kita lebih optimis. Kalau setiap kali ada yang kita inginkan dari dunia ini, perdengarkanlah pengharapan kita kepada Allah, inilah yang menumbuhkan rasa eksistensial, yaitu kepekaan untuk merasakan, menghayati, dan memahami tujuan hidup di atas pijakan keyakinan terhadap Allah Swt.

Ku berdoa, tertunduk dan bersila

Sajadah panjang, basah terbentang

Dua mata terpejam, khusuk berdoa

Tangan menadah, ku meminta

Airmata menetes, mohon dikabulkan ….

Limpahan rahmat, kesehatan, rasa syukur, rizki yang berkah,

ilmu yang bermanfaat, menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat ….

Melihat anak-anak disekolah tersenyum saya, gigi ompong dengan senyuman merekah sembari bersalaman, kerudung yang ”mleyot-mleyot” tak rapih, keringat berada di sekitar pelipis, hidung, wajah, bahkan ada satu anak yang selalu ”srupuuuut” pilek penuh ingus yang tak kunjung sembuh. ”Us sudah masuk belum, ini masih istirahat-kan?, aku sepak bola lagi ya”, teriak anak putra yang seneng bermain sepak bola. Lucunya meskipun sepak bola merupakan permainan favorit mereka, tetapi ada pula ada permainan musiman anak-anak, misalnya badminton saat di acara televisi ada turnamen kejuaraan, pasti keesokannya bermain bulu tangkis.

Tak kehilangan akal mereka meskipun hanya raket, tak ada ”kok” (bola yang digunakan dalam olahraga bulu tangkis), mereka mengumpulkan kertas lipat dikepal menjadi satu dan dikaret. Ada lagi permainan anak putri ”suster ngesot”, sruut … sruut … sruut …. diantara meja dan kursi ada anak yang menjadi suster ngesot sedangkan anak yang lain berlari berhamburan sembari berteriak-teriak.

Diantara keriuhan anak-anak ada yang bermain sekolah-sekolahan, kuamati dari jauh mereka memerankan kami saat mengajar. Neeqa meniru gaya us Ratna teriak salah satu anak, ”adek konsentrasi, jangan mainan dan ramai sendiri ust sudah didepan”, kata Neeqa pada temannya yang berperan murid dengan mengikuti gayaku saat mengajar. Tertawa …. lucu mereka, pura-pura saja tidak tau.

Wakasek kurikulum menghampiri disaat saya memimpin tahfid pagi anak-anak, ”mbak pintu almari arsip kurikulum pecah, siapa yang memecahkannya mbak?”, ”coba ditanya anak-anak ya mbak”, kata beliau sembari merendahkan suaranya berbisik agar tidak menggangu anak-anak tahfid. Ya Allah, … baru dua bulan yang lalu pigura persiden pecah yang terpampang di dinding ruang serba guna, dan baru minggu lalu ditukar pigura itu oleh wali murid. Sekarang kok almari kaca, ya Allah ….. Ya Shabur, sabaaaar ….

Keluargaku hanya ibu, embak dan adik

Saat ditugaskan mengampu di kelas 1 terdapat anak kecil yang lucu menjawab pertanyaan saat ulangan, ”Coba sebutkan apa itu ”keluarga batih” yang ada di rumahmu?, ia menjawab : ibu, mbak (pembantu rumah tangga yang sudah dianggap kakak) dan adik. Selalu tertawa saya dengan jawabannya, lalu saya tulis dilembar jawabannya setelah dikoreksi ”ayah juga dicantumkan ya de”. Hal tersebut berulang saat anak-anak mendapatkan tugas untuk mengumpulkan foto keluarga mereka dan menceritakan di buku tugas. Terlihat di foto hanya mama dan adiknya. Saya baru faham, konteks mereka (anak-anak) sangat riel, apa yang dilihat dan jujur menjawabnya. Saat kunjungan visit rumah siswa, terbukalah kisah tersebut, si ibu bercerita kalau suaminya telah pergi dari rumah dan menikah dengan oranglain, ”sakit hati saya bu, saat saya hamil 8 bulan”. Menangis mendengarnya, tiada kekurangan dalam materi di dalam rumah, saya lihat pula si ibu juga masih cantik dan mahir mengatur usaha mereka. ”Segala foto saya simpan, agar anak-anak segera menghapus memori mereka tentang ayah mereka, tetapi saya salah, anak yang terbesar malah sering melamun”. ”Alhamdulillah setelah berkali-kali kepsikiater anak, akhirnya mereka mulai pulih dan paham dengan kedaan” kata beliau. Ya Allah, sungguh kuat dan tegar, ternyata jawaban anak-anak polos dan jujur …

Aku takut dimarahi Us

Saat siang menunggu jadwal mengajar, ada satu anak yang menyeletuk dengan menyebut dengan berbagai sebutan nama binatang, yang tidak pantas untuk diucapkan. Sembari teriak-teriak ia mengacungkan jarinya dan mengejek temannya dengan umpatan. Terkejut, reflek saya tanya ia di depan kelas, seketika tangisannya meledak, semua teman melihatnya. Salah saya bertanya di depan kelas, memang sempat naik turun nafas saya melihat mendengar ia berkata jorok. Kupanggil dimeja belakang. ”Siapa yang mengajarkan berkata seperti itu?”, ia hanya menangis sesenggukan dan semakin menjadi, … terdengar sruut muncul ingus dan air matanya. Kulunakkan suara, ”ayo siapa yang ngajarin”, ia hanya menggeleng, ”sudah tidak mau ngomong dengan us, sudah ya us tinggal,” kataku dengan menghela nafas panjang-panjang untuk menambah kesabaran, sepanjang usus dalam perut. ”Aku takut dimarahi Us’, katanya dengan suara terpatah-patah. ”Lihat us, … marah tidak?”, kataku merajuk merayunya. ”Dari teman di rumah Us”, kupeluk ia agar menangisnya reda. Tiga-empat bulan yang lalu ayahnya meninggal dalam suatu kecelakaan, tetapi akhir-akhir ini seolah ia mencari perhatian dengan berbuat yang kurang semestinya. Setelah ditanyakan psikolog sekolah memang ia mencari figur yang ingin diperolehnya saat ayahnya masih ada dikarenakan di rumah ia tak memperoleh terkecuali dari ibunya …

SPP kubayar dengan belut ya bu

Kalau pulang sekolah SD selalu ibu saya belum datang. Tentu saja karena jarak jauh ibu saya mengajar hampir memakan waktu 30 menit hingga 45 menit. Hingga saat itu berpikir enak ya yang punya ibu di rumah bisa terpenuhi jajannya. Beruntung di depan rumah kami ada warung, kami dapat mengambil jajanan tinggal ibu yang membayar saat pulang bekerja. Ingat saya saat ibu beberapa hari membawa belut untuk lauk, ibu mahir mengolahnya hingga menjadi garing dan asin. Saat kakak saya tanya ”buk kok ini lagi”. ”Itu ada murid yang membayar SPP dengan belut, ya ibu menukarnya dengan uang”, kata ibu. ”Jangan dibayangkan sekolah di desa seperti di kota, sepatu kadang mereka tidak punya”. Betul pula saat suatu hari saya ikut ibu mengajar karena badan panas dan diajak sekalian di pukesmas sebelah sekolah untuk periksa. Jadwal ibu mengajar padat sehingga tidak dapat ijin, beruntung kepala sekolah memakluminya. Anak-anak berolah raga dengan kaos yang beraneka ”warna”, seadanya … tetapi mereka tetap happy juga …. (^_^)

Kok yo ra mudheng-mudheng

Adik saya yang juga mengajar di wilayah Karanganyar, diperbatasan solo. Saat pulang ia bercerita tentang anak yang benar-benar lucu pelajaran olahraga. Permainan kasti saat itu, setelah seorang murid memukul bola keras-keras, harusnya ia berlari pada pos selanjutnya agar tidak terlempar bola dari lawan, eeh kok …. malah melempar tongkat pemukul dan mencari bola yang baru saja ia lempar. Kontan adik saya tertawa terbahak-bahak, padahal sudah tiga kali ia dijelaskan. ”Iiih anyel-anyel lucu mbak”, kata adik saya. Itulah anak-anak, PD aja lagi …. meskipun salah dan belum faham ….

Tak doain ya Us …

Ujian kuliah tinggal tiga hari lagi, deg-degan berdebar hati saya. Belum siap saya ujian tugas akhir, anak-anak juga akan menghadapi tes. Tentu saja terpecah pemikiran. Siang saat makan siang sengaja diisi dengan motivasi, menjaga kesehatan karena mau tes, mendengarkan nasihat orangtua untuk belajar hingga bercerita kesulitan saya menghadapi ujian dengan tujuan agar sama-sama berempati. ”Us tak doain agar lancar ya, agar mudah”, kata Aurel. Ya anak-anak yang masih sedikit dosa bahkan belum mempunyai dosa (karena mereka belum baligh) lebih didengar, dari pada kita yang telah dewasa banyak dosanya. ”Terimakasih de”, ucapku. ”Iya us berdo’a sama-sama ya, Allahumma … Aamiin”, kata Baskoro, kemudian diamini sekelas pula. Semoga do’a-do’a mereka membumbung tinggi menembus menuju ars Allah dari lisan dan tangan yang mungil menengadah ….

Sluman, Slumun, Slamet …

Lagi-lagi tertawa saya, ibu bercerita sekolahnya mau digabung dengan satu areal sekolah lainnya. ”Tidak ada muridnya”, kata ibu. Kok ya bisa seolah di gabung?. Kalau perusahaan jelas di merger dengan menggabungkan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan yang me-merger mengambil atau membeli semua assets, lha kalau sekolah bagaimana? apa mungkin KB berhasil sehingga sudah tidak ada anak kecil atau memang peringkatnya di titik terndah dan enggan wali murid menyekolahkannya. Ibu saya menjawab, ”lebih banyak anak-anak yang mendaftar di sekolah seberang, selain aman tidak usah menyeberang jalan, lagi pula kepala sekolah dan guru-guru yang lama sudah pensiun jadi banyak guru yang merangkap mengajar, tidak membuat sekolah menarik lagi”. ”Banyak orangtua yang bekerja jadi lebih nyaman disekolahkan yang tidak pakai menyebrang jalan, menggunakan filosofi jawa : nyangoni sluman, slumun, slamet, bocah ditinggal aman”, (artinya : memberi bekal yang penting keselamatan, anak ditinggal juga aman). Lucu juga meskipun sudah ada edaran sekolah mau digabung, tetapi anak-anak kelas atas (3 hingga 6) tidak mau digabung ….

Tumbuh berkembang adikku … anakku sayang, manfaatkan kesempatan seiring perjalanan usia. Seseorang yang istimewa bukanlah yang selalu di depan mata dan bukan juga yang selalu di sisi kita … tetapi dia yang setia di hati dan mengingat pada setiap bisikan doanya … dan salah satu doa yang diijabah adalah doa yang kita panjatkan untuk orang lain namun orang yang kita doakan tersebut tidak mengetahui kita mendoakannya. Kiranya Allah mendengar setiap doa permohonan menjadikan lelah, sedih, gembira menghantar pada kemuliaan.

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan teruslah harap
Allah selalu disisimu
InsyaALLAH ada jalan…
(Maher Zain feat. Fadly Padi)

Tags:

Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd, Dosen FKIP UNS Bahasa dan Sastra Indonesia, : Jadikan Fasilitas Modern Sebagai Pendukung Dalam Meningkatkan Kegemaran Membaca


”Ada yang bilang adanya fasilitas yang telah maju, seperti internet menjadikan minat baca anak menurun saat ini, saya kurang setuju adanya pendapat tersebut. Itu dapat menjadi alternatif pilihan dari sarana bacaan, bukan hanya teks book, tetapi ia juga dapat membaca lewat bacaan yang ada di internet”. Itulah sisi pendapat yang ”berbeda” dari bapak yang satu ini, seorang dosen dari FKIP, UNS, Surakarta. Tulisan-tulisan beliau sering kita lihat dalam sebuah harian surat kabar baik pembahasan beliau tentang struktur bahasa, ”geguritan” dalam bahasa jawa atau ulasan beliau tentang anak-anak.


Fenomena apa yang paling digemari dari tema bacaan anak?

Anak umunya lebih suka cerita dengan pengembangan imajinasi, petualangan. Selain itu anak juga lebih suka hal-hal yang baru dengan inovasi, baik melalui gambar atau tulisan


Bagaimana minat membaca anak sekarang ini?

Kalau kita berbicara tentang minat, tentu saja kadang mengalami penurunan atau kenaikan. Ada yang bilang adanya fasilitas yang telah maju, seperti internet menjadikan minat bacaan anak menurun saat ini, saya kurang setuju adanya pendapat tersebut. Itu dapat menjadi alternatif pilihan dari sarana bacaan, bukan hanya teks book, tetapi ia juga dapat membaca lewat bacaan yang ada di internet. Anak yang kreatif dalam kegemarannya membaca dengan adanya internet tidak menjadikan masalah, justru akan terdorong adanya fasilitas media. Jika dikatakan minat membaca anak menurun, saya lebih setuju jika disebabkan karena adanya faktor kurang dukungan pada lingkungannya.


Kategori buku bacaan apakah yang sesuai bagi perkembangan mereka?

Diruntut dari sekarang ini banyak sekali buku yang ”gaul”, gaul dalam sisi positif lho ya. Penggunaan bahasa yang akrab dengan anak, diharapkan akan selalu ada dalam dunia mereka. Misalnya kita lihat perkembangan di kota, akan lebih banyak dijumpai sarana perkembangan bahasa yang lebih cepat, apabila dibandingkan di desa. Tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa kata-kata maupun bahasa akan mengikuti alam mereka sendiri. Konsep dasar bahasa yang baik adalah mampu menyeimbangkan penggunaan bahasa baik di desa maupun di kota. Karena itulah pengarang atau penulis dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan dunia mereka


Berbicara lebih jauh tentang bahasa, bahasa apa yang sesuai bagi anak  dalam memberikan buku bacaan ?

Tentu saja yang menyangkut tentang dunia kebahasaan anak. Hindari memasuki wilayah cinta yang dipandang secara ”dewasa”, atau tentang dunia-dunia keras keras. Selain itu juga bacaan dengan bahasa yang sensasional, glamor, sadis serta mengandung unsur-unsur vulgar, harus dihindari itu. Hal lain yang perlu ditekankan adalah bagaimana bacaan tersebut memberikan motivasi dengan nilai edukatif pula.


Adakah indikator yang dapat kita lihat dari anak yang gemar membaca?

Umumnya anak yang gemar membaca mempunyai kepekaan yang lebih tinggi dibanding anak pada umumnya. Rasa ingin tau mereka juga besar, setiap ada informasi terbaru selalu mereka merusaha mengetahuinya. Lebih gemar menjelajah dengan segala buku bacaan. Tidak terlalu pilih-pilih dalam bacaan, karena itulah perlu bimbingan orangtua. Begitu pula dalam bersikap, ia lebih mampu menghargai dan mengapresiasi tulisan tidak tepancing setuju atau tidak, meskipun dengan sederhana


Usaha apa yang dapat dilakukan agar anak gemar membaca?

Berikan ia iklim, suasana serta bahan (fasilitas) yang mendorong ia untuk membaca. Biasakanlah di rumah untuk membaca, jangan hanya menganjurkan, tetapi juga memberikan contoh. Dengan adanya panutan itulah pola-pola akan mudah terbentuk, artinya getaran-getran dari iklim gemar membaca di rumah lebih mudah terbentuk. Keteladanan memang lebih efektif dari pada kata-kata yang diulang.


nrj_nurratnajuwita

Sub Topik “Wawancara Utama” telah dimuat di
Majalah PK Media
,

(edisi : XVI, Juni tahun 2011)

Tags:

Dra Hj. Durroh Barajah, M.Hum, Hakim Pengadilan Agama Jakarta : DIDIKLAH ANAK SESUAI ZAMANNYA


Up Date Mei 2011 : Pilih Categories  disamping / Home & About  di atas:

Key Word : Pendidikan Anak

 

 

Hendaklah kamu didik anak sesuai dengan zamannya. Kalau kita pakai teori, bisa jadi teori tersebut hanya berguna dalam satu masa atau satu periode. Tetapi kalau ditunjang dengan Al Qur’an, dan sunnah seperti apa yang dicontohkan nabi, insya Allah akan selalu berguna, seperti nasihat Luqman kepada anaknya yang termaktub di dalam Al Qur’an.

Meskipun jarak yang jauh, tidak menghalagi untuk menimba ilmu dari beliau, Ibu Dra. Hj. Durroh Barajah, M.Hum. Dengan melalui fasilitas teknologi yang ada, tentu amatlah mudah sekarang ini untuk menghubungi beliau yang sekarang berdomisili di Jakarta, sebagai hakim agama. Berikut merupakan cuplikan wawancaranya :


Bagimana karakter anak secara islam dapat dibentuk?

Karakter kalau menurut saya lebih mengacu pada sikap dan pribadi individu yang dapat di manifestasikan melalui tingkah laku. Sejak pertama sebetulnya anak-anak perlu dasar aqidah dari orangtua. Dimana kita ketahui, sikap dan prilaku terbentuk dari keluraga secara lebih dominan dibandingkan lingkungan masyakarat. Kepribadian anak juga dipengaruhi oleh pola asuh orangtua, sehingga orangtua mempengaruhi apa yang diajarkannya. Kenalkan anak secara dini apa yang menjadi hak mereka serta
kewajibannya. Dalam keluarga saya misalnya, ada ruang makan yang mana setiap kursi mempunyai ”maqom” tersendiri. Kursi
pojok untuk abah, kursi samping untuk adik, dll. Semuanya saling berkaitan, abah belum memulai makan sebelum putra-putrinya berkumpul untuk berdoa dan makan secara bersama. Mungkin itu dapat dianggap kuno, tetapi jauh lebih terkesan karena saat itulah terjadi kedekatan antara anak dan orangtua.


Hal utama apa yang perlu diajarkan kepada anak menurut ibu?

Selain aqidah seperti yang saya paparkan diatas, juga diperlukan kasih sayang. Tumbuhkan prilaku baik kepada anak semata-mata karena Allah. Anak yang menjadi tanggung jawab kita, suatu saat akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Banyak sekarang ini kita temui anak yang mungkin cerdas secara intelektual tetapi kurang pada akhlaqnya. Kadang pula anak yang mungkin ”baik” di depan kita, belum tentu diluar ”baik”. Karena itulah amat penting kenalkan secara dini, dimanapun kita berada Allah-lah yang melihat kita. Meskipun itu sulit menanamkan pemahaman itu, tetapi melalui proses anak semakin lama akan semakin mengerti. Secara sederhana kenalkan anak pentingnya sholat dengan ”bahasa qalbu” dan bahasa anak. Saya menulis buku tenang ”inner beauty” yang sedikit banyak juga membahas tentang masalah ini.


Bagimana pendidikan karakter anak secara islam sekarang ini?

Meskipun saya tidak menggeneralisasi, banyak kita jumpai yang masih mengaku islam, tetapi ada pula orangtua yang memberikan pola asuh tidak sesuai aqidah islam. Orangtua yang salah menerapkan pola asuh dapat menjadikan ”anak yang enggan tinggal dirumah”, seolah-olah keluarga kehilangan anak tersebut. Boleh jadi anak itu tidak nakal, tetapi ia lebih ”betah” di luar keluarga. Meskipun saya tekankan sekali lagi ia tidak nakal, tetapi hanya ”tidak betah”. Kenyataannya banyak yang berkembang di masyarakat sekarang ini, dimana sebenarnya anak mempunyai bibit yang baik, tetapi di lingkungan keluarga yang membuat ia tidak nyaman.


Bagaimana pengalam ibu dalam mendidik putra-putri?

Meskipun dengan berbagai aktifitas, berusahalah untuk memberikan contoh yang baik bagi putra-putri. Saya selalu berkonsulatasi dengan suami berbagai masalah yang saya hadapi, baik dalam pengasuhan anak atau pekerjaan. Selain itu juga hormatilah beliau, karena beliau adalah imam bagi keluarga. Seperti yang telah dipaparkan di atas tentang ”maqom” tadi. Pengalaman saya dalam mendidik anak yang menjadi titik point seperti :

- Setiap anak, saya berikan hak yang sama kepada mereka. Tekankan pula untuk memenuhi kewajiban, karena setelah kewajiban terpenuhi tentulah hak akan mereka peroleh.

- Kenalkan mereka pada figur sebagai contoh, karena contoh merupakan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau menurut saya anak tidak usah di dekte untuk sholat, tetapi harus kita berikan contoh bagi anak. Sebuah refleksi dari kisah sahabat rasul yang didatangi seorang anak secara tiba-tiba dan ingin mengamalkan ajaran agama. Ibunya tidak pernah memberikan hak kepada anaknya, karena si ibu seorang manjusi, maka ia (anak tersebut) mengadu kepada Khalifah Umar Bin Khattab. Anak mempunyai hak terhadap tuntutan yang diajarkan orangtua.


Apa tips dan kesan dalam membentuk anak yang berkarakter islam ?

- Berauhid Ajarkan anak bertauhid secara dini. Dengan adanya tauhid ini akan memunculkan ”kefitrahan”.

- Janganlah kamu meninggalkan agama, karena agama kita sendiri mengajarkan banyak hal, termasuk mendidik anak. Hendaklah kamu didik anakmu sesuai dengan zamannya. Kalau kita pakai teori, bisa jadi teori tersebut hanya berguna dalam satu masa atau satu periode. Tetapi kalau ditunjang dengan Al Qur’an, dan sunnah seperti apa yang dicontohkan
nabi, insya Allah akan selalu berguna, seperti nasihat Luqman kepada anaknya yang termaktub di dalam Al
Qur’an
.

- Point-point yang baik dalam Al Qur’an dan sunnah amatlah penting kita terapkan. Umpamanya tentang akidah atau tuntunan sholat. Pendidikan tentang puasa dan lain sebagainya.

(nrj_nurratnajuwita)

Sub Topik “Wawancara Utama” telah dimuat di
Majalah PK Media
,

(edisi : XI, tahun 2008)

KARTINI, rIwaYatmU DoEloe ….


Up Date April 2011 : Pilih Categories  disamping / Home & About  di atas :

Key Word : About Women’s

 


“…. kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya …”

(Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)


Dengan segala keunikan yang dimiliki oleh seorang perempuan …. Perbedaan yang diciptakan Allah memang sungguh nyata adanya … Kadang perbedaan itulah dibutuhkan, sebagai penyeimbang, pelengkap …. berwarnanya dunia ….

Saat hari kartini apa yang teringat dalam benak?, biasanya memakai kebaya, rambut bergelung dengan assesoris adat Jawa yang biasa dipakai masyarakat Jawa pula. Saat Kartini hanya sebagai model sanggul …


Definisi

Ada dua sebutan Allah untuk kaum hawa ini dalam Al Qur’an, yaitu mar’ah dan nisaa’. Allah membahas dan menerangkan tentang wanita. Mulai dari mengandung (pembentukan janin, waktu usia kandungan), kelahiran, nasab, penyusuan, mendidik anak, pembagian warisan, perkawinan hingga perceraian (talaq). Sungguh sempurna agama Islam yang mengatur di setiap lini kehidupan.

Kata “wanita” dianggap melambangkan sebuah karakter. Wanita dalam bahasa jawa dipilah dari dua suku kata, yaitu dari ”wani” yang berarti berani dan ”tata” tata yang berarti ditata. Perempuan berasal dari kata per – empu – an, yang lebih dikonotasikan mandiri. Mampu secara mandiri mengembangkan kemampuan mereka.

Perempuan dalam islam yang memeluk agama islam (muslim) mempunyai sebutan dengan nama ”mu’minah”. Tanpa pembedaan pula, tersebutlah kata ”muminin” yang berarti laki-laki yang memeluk agama islam (muslim).


Penjajahan Peradaban

Kita tidak harus terpaku pada sosok Kartini, karena kita memiliki pedoman Al Qur’an dan Sunnah. Namun seperti halnya jiwa perlu menyimak sirah, melihat Kartini agar dapat menjadi pelajaran bagi kita …

Dimasa dulu, kelayakan dan kemuliaan dilihat dari garis darah biru keturunan. Keningratan Jawa, yang terbalut sedemikian rupa menjadikan ia memiliki “kasta” yang lebih tinggi. Penjajahan yang menjadikan perempuan “terkekang” tanpa dapat berkembang, diistilahkan dalam bahasa Jawa “masak, manak, macak”, yang berarti kemahiran perempuan hanya pada memasak, berdandan dan melahirkan. Jika ditelusuri lebih jauh, semuanya membutuhkan pendidikan, bagaimana membina keterampilan diri, bagaimana mengajarkan pada si buah hati jika tidak mempunyai ilmu?. Bagi Kartini, pintarnya seseorang wanita berarti harapan kebaikan bagi suatu bangsa. Karena untuk membuat suatu bangsa berjaya dibutuhkan generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia, yang mendidik putra-putri mereka secara tepat.

Nubuah sebuah sebuah surat yang diberikan yang diberikan kepada Stella, Nyonya Abendanon atau Prof. Anton.

“…. sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya ijinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih sayang dalam sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah …. (surat kepada nyonya Abendanon, 18 Agustus 1899)

Surat di atas jelas menunjukkan ia tidak menyukai kekakuan tata cara keningratan. Keningratan yang diperoleh dari nasab keturunan. Kultur feodal yang muncul terbawa arus penjajahan saat itu, dimasa Belanda. Proses pencarian diri “seorang Kartini” yang selalu ditorehkannya melalui surat-surat dari pemikirannya yang berlawanan dengan realitas. Satu hal yang diinginkan Kartini, diperolehnya pendidikan layak bagi para perempuan, karena ibu-lah yang akan membesarkan anak-anak mereka kelak, pendidikan bagi mereka (tarbiatul aulad).


Latahkah Kita?

Inilah yang sekarang disebut dengan “emansipasi”. Tetapi latah menyikapinya, gagap dan simpang siur dengan konteks yang sesungguhnya. Boleh-lah perempuan bekerja, tetapi dengan batas koridor yang jelas. Fitrah peran yang disandangnya sebagai istri yang mendampingi suaminya serta ibu yang melahirkan dan mendidik anak . Bahkan Katini-pun telah menuliskan curahan hatinya pada Prof. Anton dan Nyonya, (4 Oktober 1902),

“ … kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKA SEKALI-KALI KARENA KAMI MENGINGINKAN anak-anak perempuan itu menjadi SAINGAN laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Sungguh lucu tetapi sekarang dengan mengatasnamakan persamaan, mudah terjebak pada materialisme. Sudut pandang yang dulu menginginkan pendidikan yang mampu bersinergi dengan ranah kelarga, menjadi belenggu materi. Jabatan hebat, serentetan titel panjang, siapa yang mempunyai harta sebanyak-banyknya, maka ialah yang “terpandang”.

Mengatasnamakan masa depan, karir, dengan dalih kecerdasan dan kompetisi untuk menghindari peran pokoknya. Berikan anak pada pembantu saja kok repot?, tentu saja ini berbeda dengan konteks yang memang secara ekonomi mereka tidak mampu, sehingga perempuan bekerja untuk memperkuat perekonomian keluarga (tentu saja dengan seizin suami).


Dari suatu peristiwa , … banyak keraguan yang muncul saat 3 tahun lalu, yang saya anggap setahap langkah untuk menapaki masa depan. “Apakah ini hanya keinginan “sesaat”, “emosional sejenak”, “kecemburuan pada lingkungan”, atau apaun itu. Keputusan untuk melanjutkan jenjang pendidikan, dilematis dalam benak … “apa betul-betul membutuhkan pendidikan ini?, atau hanya getol-getolan saja?, hebat-hebatan?, atau pengisi waktu luang?”. Saat pengajuan bea siswa, di tahap tertentu lolos menjadikan dorongan minat semakin terbulatkan tekat.

Tetapi hati seolah muncul “keberontakan kecil”, betul tidak langkah ini?, karena ini tidaklah mudah harus memikirkan dari banyak segi. Banyak orang-orang yang saya minta untuk memberikan pendapat, dari ibu alhamdulillah selalu mendukung, atasan saya dengan berkelakar sewaktu saya ditanya apakah jadi mengambil pendidikan di sebuah perguruan tinggi, beliau berkata “ … proses mbak, kemapanan itu akan muncul, saya dulu waktu melanjutkan ke Ohio juga 90% persen nekat, sedangkan 10%-nya mungkin baru kemampuan (tentu saja beliau dengan bercanda, tak mungkinlah sekaliber beliau berotak “pas-pasan”).

Mempertimbangkan pendapat dari orang-orang yang saya anggap mempunyai pendidikan agama yang lebih. Hingga setelah konsultasi selepas suatu acara, beliau mengundang saya dirumahnya. Kami banyak saling bercerita, putra-putri beliau telah besar, terlihat dari foto saat kami duduk di ruang keluarga. Beliau seorang ibu juga berprofesi sebagai hakim. Tersenyum dengan berucap bismillah … kumulai melangkah.

Beliau berpendapat, pendidikan jika diniatkan hanya untuk pekerjaan semata sungguh akan rugi … niatkan semua karena Allah, karena dititik pekerjaan tak jarang mersakan jenuh jika tanpa bereksplorasi begitu juga dalam mendidik anak seiring dengan perkembangan mereka. Jika-pun tidak bekerja, toh pendidikan dapat kita berikan pada anak-anak kelak, tak akan mubazir … (tersenyum saya dengan ucapan beliau). Sungguh picik pikiran saya, hanya melihat dari segi materi, karir masa depan … padahal ada disudut yang lain, yang lebih “berharga”.

 

“Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu pengetahuan, hiasilah aku dengan sifat penyantun,  muliakanlah aku dengan bertaqwa dan baguskanlah aku dengan keselamatan”

Aamiin Ya Rabb …



Hargailah Hidupmu ….

Ciptaan Allah untuk membentuk suatu mahluk hidup yang banyak dilihat dari berbagai dimensi. Perumpamaan diciptakannya manusia berpasangan, seiring dengan terjadinya siang yang bersilih menjadi malam.

Kecakupan Islam dalam berbagai dimensi, salah satu dimensi tersebut adalah dimensi demografis, Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan seluruh etnisnya, dan bahwa mereka semua sama di mata Allah, sebagai ciptaan-Nya dan dibedakannya satu sama lain karena asas ketakwaan (Al Hujurat, 49 :13, 34:28). Tiada membeda-bedakan Allah menciptakan seorang hamba yang bernama manusia. Fitrah yang melekat patut disyukuri, perempuan mempunyai posisi yang tidak dapat tergantikan, begitu pula sebaliknya pada diri laki-laki.

Secara horizontal hubungan antar manusia keduanya memiliki peran, hak dan kewajiban yang berbeda. Konsentrasi utama perempuan tetap berada dalam rumah tangga, sementara di luar ranah domestik adalah bersifat sunnah. Tentu bolehlah ia berkarya dan berkarir, asalkan tidak menyingkirkan peran utama. Ruang untuk perempuan dibutuhkan untuk bersosialisasi, namun jangan sampai lalai. Tugas ibu mendidik anak, yang kelak akan menjadi penerus. Mereka lahir menjadi generasi yang kuat, tangguh, shalih serta cerdas. Pada saat gilirannya merekalah yang akan menjadi pemimpin. Pemimpin yang berakhlak mulia, berkarakter dan berakidah. Peradaban dimulai dari sekarang, dilingkungan kita yang terdekat, keluarga

Orientasi bekerja laki-laki berada di luar rumah (mencari nafkah) dalam ranah publik. Sedangkan perempuan di dalam rumah, ranah domestik. Yang perlu digaris bawahi adalah orientasi, bukan suatu hal yang tabu jika laki-laki beraktivitas di dalam rumah atau begitu pula wanita beraktivitas di luar rumah. Tidaklah mungkin malam mendahului siang dan tidaklah mungkin siang mendahului malam. Masing-masing berputar menurut garis edarnya. Laki-laki mempunyai tugas sendiri, perempuan juga mempunyai tugas sendiri

Bolehlah perempuan berperan pada ranah publik, apalagi dewasa ini banyak berkembangnya institusi-institusi Islam sehingga kebutuhan akan perempuan yang berpotensi dalam beberapa bidang menjadi diperlukan, misalnya saja dokter, guru, atau perawat. Perlu perempuan untuk mengagendakan membaca, belajar, beraktivitas peningkatan diri, baik pengetahuan dan keterampilannya. Dengan adanya perempuan dalam sektor tersebut diharapkan akan adanya pelayanan yang lebih baik serta memenuhi persyaratan tertentu dalam Islam.


“ Nasihatilah kaum wanita baik-baik, sebab wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.

Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok yang berada di bagian paling atas.

Jika engkau meluruskannya, berarti engkau mematahkannya;

dan jika engkau membiarkannya, maka dia akan tetap bengkok.

Karenanya, nasihatilah kaum wanita (dengan) baik-baik”

(Al Hadits)


Sungguh Allah tidak akan memberi pahala lebih besar kepada laki-laki karena dia bekerja di luar rumah atau sebaliknya pahala yang lebih kecil kepada perempuan karena bekerja memenuhi peran besarnya di dalam ruamh. Tugas laki-laki tidak lebih sulit dari tugas wanita dan begitu pula sebaliknya. Bersukur Allah menciptakan perempuan, karena ia pembangun perdaban ….

Peran seorang perempuan (ibu) dalam membentuk peradaban tidak terlepas dari dua unsur, yaitu :

1. Pendamping suami

Kehidupan Rasulullah tidak terlepas dari peran tiga perempuan hebat. Aminah ibunya, guru pertama yang mengajarkan saat ia kecil . Khadijah istrinya, meneguhkan spiritual dan kelelakiannya, pendamping disaat di awal turunnya wahyu kenabiannya, dengan lemah lembut dikuatkannya saat Rasulullah menggigil memperoleh wahyu kali pertamanya. Fatimah anak perempuannya, membentuk sifat kelembutannya.

Tak jarang saya sering membaca dibalik setiap harapan besar, harus ada kekuatan besar pada garis keperempuannya.


Kagum terbersit di dalam hati … Setiap presentasi selalu si istri mencatat dari kekurangan suaminya saat memaparkan menjadi pemakalah. Istri dari dosen saya bukan satu tim dari kelompok kerja kami, tetapi setiap ada kesempatan beliau berusahan selalu hadir, apalagi saat suaminya menjadi pemakalah. Saat evalusi kegiatan seminar, selalu ada catatan kecil bagi sang suami, begitupula saat terakhir seminar di auditorium UMS Moh. Djazman, ia memperkenalkan istrinya di depan khalayak publik. Lintas disiplin ilmu, si istri seorang dokter, sedangkan suaminya sebagai tenaga pengajar. Seolah “tambal sulam” saling mengisi. Semoga menjadi harapan yang indah    (^_^)


2. Ibu dari anak-anak

Perempuan bukan hanya sekedar melahirkan, tetapi juga harus mumpuni dalam mendidik anak. Laksana pedang bermata dua, jika ia (perempuan) baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai ketentuan dan suatullah, maka layak diibaratkan batu bata kokoh, fondasi dasar bagi bagunan masyarakat Islam. Tetapi apabila menyimpang akan dapat merusak dan menghancurkan umat.


Belajar RIDHO dari suatu KETENTUAN…

Semoga Allah mengaruniakan ilmu yang manfaat, yang tidak hanya dari bangku sekolah atau kuliah saja, tetapi berhikmah dari realitas kehidupan, enyaman rajutan peristiwa yang kita temui di setiap hari.

Semoga pula ilmu yang kita peroleh semakin bertambah dekat dan kian takutlah kita kepada-Nya.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!



Berjuanglah selalu perempuan …

Bekerjalah untuk keridhoan-Nya dan kebahagiaan …

Ia yang menjadikanmu penuh harapan …

Takdir adalah penentu sejauh mana langkahmu …

Sehebat, sesukses, segemilang cita-cita, … apapun itu ….

Jangan lupakan kodrat fitrahmu …


Tags:

Prof. Dr. HM. Syamsulhadi, dr.SpKj(K), Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta : KRISIS KETELADANAN YANG MENGKHAWATIRKAN

Up Date Maret 2011 : Pilih Categories / Home / About us pada gambar disamping:

Key Word : Pendidikan Anak


“Sekarang ini banyak yang telah melupakan ajaran-ajaran Rasulullah, sehingga anak kurang merasakan “kehangatan” di tengah keluarga. Hal ini disebabkan berbagai alasan misalnya orangtua yang sibuk, kurang peduli terhadap perkembangannya, diperparah lagi keadaan lingkungan yang kurang mendukung, dari tontonan ditelevisi hingga perilaku pejabat negeri kita”. Demikian petikan wawancara dengan Prof. Dr. HM. Syamsulhadi, dr.SpKj(K), rektor UNS Surakarta. Sedikit belajar dari berbagai pengalaman beliau, berikut penuturannya :


Jika dilihat dari aspek kejiwaan anak, bagimana peranan agama bagi perkembangannya?
Peranan agama dalam perkembangannya jika kita lihat berdasarkan teori Freud, kejiwaan yang penting terbentuk dari sejak lahir hingga berusia 6 tahun. Effek dari pembentukan kejiwaan tersebut khususnya hal-hal yang berkaitan dengan agama, berpengaruh hingga saat ia dewasa. Diusia 6 tahun berpengaruh hingga 80%, sisanya terjadi pada perjalanan hidup manusia, maksimal di usia 24 tahun. Usia 24 tahun ini akan lebih hampir menetap. Tentulah sangat penting bukan hanya saat ia kecil, tetapi juga fase usia SD, SMP hingga SMA


Fenomena apa yang terjadi sekarang ini dilihat dari aspek kejiwaannya?
Sangat miris sekali, kita lihat saja secara realita, khususnya dalam lingkungan keluarga atau sekitarnya kurang mendukung adanya tuntunan dan tontonan yang baik. Sekarang ini banyak yang telah melupakan ajaran-ajaran Rasulullah, sehingga anak kurang merasakan “kehangatan” di tengah keluarga. Banyak orangtua malah mencontoh oranglain, tren saat ini. Anak bingung siapa yang akan dijadikan contoh?.

Diskala yang besar, banyaknya pejabat yang korup, tidak peduli lagi pada masyarakat kecil, tentu saja mereka bukan panutan yang baik. Dilingkungan anak yang lebih kecil, misalnya saja lingkungan sekitar. Dari tontonan anak kurang mendidik, infoteiment, sinetron yang menunjukkan kemewahan, menunjukkan agaresifitas kemaharan, berani pada orangtua, kadang menunjukkan pula sedikit pornografi. Meskipun ada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), tetapi malah ditertawakan. Misalnya saja dengan UU anti pornografi, banyak alasan yang muncul, menghambat kreatifitas, terbentur pada budaya, seperti orang pedalaman yang masih menggunakan koteka, padahal dalam UU anti pornografi menurut saya sudah mengakomodir kesesuaian dengan budaya.
Dilingkungan keluarga juga terjadi, dulu saat saya sekolah SD penduduk Indonesia masih sekitar 80 juta, sekarang berkembang menjadi 238 juta. SDA makin lama makin habis, terkuras, dulu negara mengeksport berbagai bahan, tetapi untuk kebutuhan sendiri kadang kurang, sekarang berbalik menjadi mengimpor. Akibatnya, mau tidak mau banyak orang berebutan karena tuntuan ekonomi memaksa keluar dari daerahnya. Dahulu ibu yang bekerja sangat jarang, tetapi sekrang banyak sekali bahkan ada pula dengan alasan emansipasi. Beberapa hari yang lalu saya ke Jepang, negara Jepang bersaing kuat dengan Amerika, tetapi saat ini Jepang menglami penurunan. Hal ini disebabkan sudah banyaknya peniruan pada barat, tradisi etos kerja, kebersamaan keluarga juga menurun. Padahal ditahun 2002, wanita Jepang 97,5% lulus SMA, dan 48,8% tamat perguruan tinggi. 61% ibu muda Jepang keluar dari pekerjaannya menjelang kelahiran anak pertama untuk membesarkan anaknya. Ini artinya, bagi wanita Jepang menjadi wanita karir bukan pilihan dominan. Mereka berilmu dan wawasan keilmuannya dipakai untuk membesarkan anak-anaknya, sebab ibu yang berilmu lebih baik dalam mendidik anak-anaknya.


Bagaimana menurut bapak pendidikan yang diajarkan Rasulullah bagi kejiwaan anak?
Rasulullah sangat sayang pada anak-anak. Didukung pula istrinya, Aisyah wanita yang cerdas, sholeh, jujur. Kita tau banyak sumber-sumber hadits dari Aisyah yang melihat keseharian Rasulullah. Jelaslah terlihat bahwa prilaku, tutur kata, kebisaan merupakan suatu bentuk “panutan” didalam keluarga. Rasulullah tidak memberikan banyak bicara, tetapi perilaku yang dapat dijadikan ketauladanan. Kadang orangtua berpendapat pada anaknya, “kamu harus begini-begini …”, padahal banyak dari perilaku kita yang tidak sesuai. Secara psikologis usia relatif menikah berkisar antara 26-28 tahun, diusia orangtua 35 tahun, anak baru mencapai kelas 1. Tak jarang ibu diusia tersebut masih masa-masa meniru metode atau masih sangat sibuk pada urusan-urusan yang lain, akibatnya sangat minim pula proses imitasi anak pada orangtuanya


Apa yang perlu diperhatikan orangtua dalam mendidik anak, khususnya dalam kejiwaannya?
Pertama adalah imitasi atau peniruan atau keteladanan dari orangtua. Secara konkrit anak akan lebih mudah belajar. Berikan ia panutan yang baik, melalui agama, perilaku, pendidikan, bahkan cara kebisaan dirumah mulai dari makan, belajar hingga bersopan santun.
Kedua adalah orangtua minimal setidaknya mengetahui fase tahap perkembangan anak, diusia berapa apa yang harus dilakukan, pendidikan seperti apa?. Ajaklah anak berkomunikasi sesering mungkin agar tercipta kedekatan. (nrj_nurratnajuwita)


Sub Topik “Wawancara Utama” telah dimuat di Majalah PK Media
Edisi XV, Desember 2010

Tags: ,

Jodoh di Tangan Siapa?

Jodoh di Tangan Siapa?.

Klik tanda hiperlink di atas

Share : Mario Teguh Golden Ways, Metro TV, 1 3 Februari 2011

Match Up Date Februari

Tags:

 Page 1 of 3  1  2  3 »