Prof. Bambang Setiadji, Rektor UMS, Surakarta : Wirausahawan, Membangun Kemuliaan
Up Date Desember 2011 : Pilih Categories disamping / Home & About di atas:
Key Word : Wirausaha, Pendidikan, Anak
Di hari Sabtu disebuah kelas diadakan kegiatan jual beli setiap minggu ketiga dalam satu bulan. Terdapatlah seorang anak membawa tiga buah kantung palstik kecil yang diberi air. Didalamnya terdapat berbagai jenis ikan, ada ikan lele, cupang ikan hias yang semua besarnya tak lebih dari jari kelingking mungil. Tertawa geli melihatnya. Ketika ditanya berapa harganya?, ia menjawab : “satu ikan lele dua ratus rupiah, cupang seribu lima ratus dan ikan hias lima ratus rupiah”. Tak lama belum ada lima menit sebagian anak putra dikelas mengelilinginya. Laris manis tanjung kimpul, semua sudah dipesan oleh teman-temannya. Ia ambil satu plastik kosong untuk memilahkan ikan-ikan yang dibeli sesuai pesanan. Hari ini ia membawa lima ekor ikan lele kecil. Dipilahkannya dua ikan lele untuk diberikan kepada temannya sesuai pesanan. Disaat akhir kegiatan jual beli, seperti biasa mereka mengisi lembar kegiatan jual beli. Berapa harga membeli barang, menjualnya bahkan laba, rugi atau impas mereka tulis semuanya. Harap … harap … cemas, siapa ya hari ini yang berhasil meraih smile face dari ustadzah dengan kategori pilihan : siswa yang gigih menawarkan barang dagangannya, barang yang di bawa habis dan menapatkan laba.
Enterpreneurship
Melihat tingkah anak-anak yang menawarkan barang dagangan lucu sekali. Ada yang gigih menawarkan dengan tawaran bonus, beli satu pencil dapat satu smile face. Sampai bentuk smile face mereka tiru karena sulitnya meraih dan ”berjuang” mendapatkan smile face. Ada lagi yang senang sekali barang dagangannya laku dijual dengan harga semurah murahnya, ”yang penting barang dagangannya habis” … kata salah seorang siswa. Lagi-lagi tertawa kami mendengarnya, tentunya setelah mereka mengisi lembar jual beli dengan pelan-pelan dijelaskan kepada anak-anak. Di bulan ketiga, terlihat semakin mahir beberapa anak muncul ”bakat” bisnis. Mulai mereka memahami ”pangsa pasar kelas,” kira-kira minggu ini apa yang paling laku?, dan mereka membawanya untuk diperdagangkan.
Kata wirausaha atau enterpreneur pada dasarnya biasa disederhanakan menjadi aktivitas berdagang. Menciptakan pekerjaan baru untuk dirinya senfiri atau orang lain baik dengan produk barang ataupun jasa, menurut Prof. Bambang Setiadji. Kemuliaan dalam berdagang adalah mana kala mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Prof. Bambang Setiadji juga menjelaskan pada saat dimasa Rasulullah kehidupan berwirausaha merupakan pekerjaan yang mudah dutemui dimasa itu. Bahkan, Rasulullah Saw mencontohkan untuk bekerja keras dan meraih kesejahteraan dari berdagang. Bekerja keras bagi seorang muslim adalam bentuk ibadah. Bekerja yang selama ini dikaitkan urusan dunia pada dasarnya setara dengan nilai-nilai ibadah di mata Allah Swt. Hikmah yang luar biasa dalam ajaran Islam seperti yang diajarkan sang enterpreneur sejati Rasulullah, mengambil kesempatan meraih 90% rezeki dengan berdagang, meraih kekayaan dengan wirausaha
Mengenalkan si kecil, apa itu berwirausaha?
Menjadi wirausahawan, selain melaksanakan sunah rasul juga merupakan sebuah pilhan profesi atau cita-cita yang cerdas. Selama ini masih banyak pola pikir dengan mindset terbiasa dengan cita-cita bekerja pada kantor atau disuatu instansi yang dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi pengusaha, tiada salahnya pula tetapi perlu ditelaah lebih jauh. Umumnya orientasi pendidikan baik dirumah atau disekolah menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, karena itu diperlukan pula pengajaran untuk menciptakan lapangan kerja. Prof. Bambang Setiadji menambahkan, penduduk Indonesia sekitar 230 juta jiwa, sementara ini pemerintah hanya bisa menyediakan pekerjaan 40 juta. Tentunya lapangan pekerjaan tersebut sangat kurang dengan realita. Karena itulah, lapangan pekerjaan harus diciptakan melalui peran pengusaha. Belum lagi kebiasaan masyarakat Indonesia adalah ingin mencari posisi yang ”save”, aman dengan gaji yang tetap sebagai karyawan (meski terbatas dan kurang bisa berkembang). Menurut Prof. Bambang Setiadji, beberpa point yang penting untuk dikenalkan pada si kecil bagaimana dan apa berwirausaha :
-Mengenalkan secara dini melalui simulasi
Sebait cerita di atas sebagai pembuka bagaimana menstimulasi anak-anak dalam mengenalkan apa itu berwirausaha. Meskipun secara sederhana melalui bermain secara proses merupakan bagian yang dikenalkan bagi anak-anak. Melatih menganalisis secara sederhana barang yang laku, laba yang diambil. Apa yang perlu diperhatikan dalam berwirausaha melalui evaluasi weekly journal jual beli. Jenis barang yang diperdagangkan, berapa harga jual dan beli bagian dari belajar dari matematika pula
-Berperan secara langsung
Menghitung, melatih dan mengelola bukan hanya diajarkan secara teksbook yang dapat dibaca, tetapi bagimana pembelajaran yang dikemas dapat membekas dalam sanubari anak-anak. Konsep pemahaman yang mudah bagi anak-anak manakal mereka dapat melakukannya secara langsung. Misalnya, magang di koperasi sekolah disela-sela istirahat yang dijadwalkan secara bergilir, ikut ”menjualkan” barang dagangan di kopersi sekolah
-Berlatih mandiri dan menabung
Berlatih secara mandiri dan mengenalkan pada anak-anak dapat dilakukan dirumah. Seorang anak dapat dikenalkan apa yang dikerjakan orangtuanya. Dengan melibatkan anak dalam urusan berdagang, maka ia akan paham bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk bersekolah. Ketika mengingkan sesuatu, perlu anak diajarkan menabung dengan menyisihkan uang jajan agar dapat memenuhi keinginannya tersebut.
-Meningkatkan minat dan kreatifitas
Banyak peluang dari berwirausaha yang kadang dimulai dari kesadaran akan potensi diri sendiri. Orangtua memang tak perlu memaksakan kelak apa yang harus dan mau tidak mau dilakukan anak berkaitan dengan cita-cita dan harapan mereka. Selama masih dalam koridor positif, tidak menyalahi aturan-aturan agama perlu didukung dan dihargai. Keterampilan wirausaha menjadi investasi bagi anak-anak, karena membekali mereka dengan keterampilan dan pengalaman.
-Leadership dan berani mengambil resiko
Salah kunci dalam leadership adalah kekuasaan. Kenalkan anak bagaimana ia mengatur secara dini apa yang dapat mereka lakukan untuk mengolah terampil menjadi usaha. Apalagi jika orangtua seorang pedagang akan lebih mudah menanamkannya pada anak. Di suatu waktu perlu anak dilibatkan untuk menjaga toko misalnya. Ketika anak telah tumbuh semakin besar, maka ia dapat dilatih menjadi pengawas atau supervisor. Mengawasi dan mengelola jalannya usaha apa yang perlu dikembangkan agar dapat berjalan dan memperoleh keuntungan.
Banyak kebaikan yang kita peroleh dalam berwirausaha. Bukan sesuatu yang lebih rendah manakala seorang berdagang secara jujur dan berusaha bekerja keras. Melalui semangat dan optimis akan selalu dituntut untuk semangat merealisasikan visinya dalam keadaan sulit sekalipun. Berusaha untuk selalu menambah ilmu dan keterampilan sehingga tidak membosankan. Selalu berfikir positif dan menemukan tantangan. Begitu juga selalu bertawakal dan bersyukur untuk fokus mengupayakan apa yang dapat dilakukan mencapai tujuan
nrj_nurratnajuwita@pkmedia







